Dibaca: 947 kali Sabtu, 11 Juni 2011 11:02
M Nazaruddin tidak mengindahkan panggilan KPK meski tim Partai Demokrat telah membujuk agar pulang ke Indonesia sebelum dipanggil.
“Yang penting kami sudah mengingatkan. Kami kan tidak bisa memaksa. Tapi kalau mau memaksa pulang, itu kewenangan KPK. Saya kira KPK punya cara sendiri untuk bisa menghadirkannya ke sini,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta.
Nazaruddin diagendakan diperiksa KPK, kemarin, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan dan revitalisasi sarana dan prasarana di Ditjen PMPTK Diknas tahun 2007.
Berikut kutipan wawancara dengan salah satu anggota tim komunikasi, Sutan Bhatoegana:
Kunjungan Tim ke Singapura dianggap sebagai pembelaan, sesungguhnya apa tujuan bertemu Nazaruddin di Singapura?
Sebelum kepergian kami, banyak berita tentang partai kami dan berujung pada informasi yang tidak jelas. Untuk mengurangi atau menepis rumor yang beredar dan kurang sedap, terutama mengenai Partai Demokrat, makanya Pak SBY memerintahkan kepada DPP dalam hal ini Pak Anas, agar membesuk dan berkomunikasi dengan Pak Nazar di Singapura.
Apa harapan Partai Demokrat setelah pertemuan ini?
Pertama, dari pertemuan di Singapura dan konferensi pers di Jakarta, kami ingin menegaskan masalah ini, biarlah untuk intern kami saja.
Apabila nanti dibawa ke ranah hukum, biarkan ranah hukun itu berjalan sendiri. Jangan gara-gara didorong agar tersangkut ke ranah hukum.
Kedua, tidak ada perpecahan di Partai Demokrat. Kami di internal bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Contohnya, Dewan Kehormatan berkerja berdasarkan etika dan moral, fraksi berdasarkan fakta hukum. Ini kan harus saling mengisi, jangan ditabrakkan.
Setelah tim mengajukan ingin bertemu, apakah Nazar langsung merespons secara positif?
Saya sering berkomunikasi dengan yang bersangkutan. Ketika saya ungkapkan maksud kami ingin menjenguknya, dia meminta waktu untuk berpikir selama satu atau dua hari. Baru Selasa (31/5), Pak Nazar memberikan kesediaan dan kepastian bisa bertemu dengan tim. Lalu kami sampaikan kepada Ketum (Anas Urbaningrum), dan beliau setuju. Pada saat itu belum dipastikan akan bertemu di mana. Tapi Pak Nazar bilang ketika nanti sampai pelabuhan, akan ada yang jemput.
Loh, kenapa tidak menggunakan pesawat terbang?
Pak Nazar bilang bahwa dalam pertemuan itu jangan membawa siapa pun termasuk wartawan. Kami jaga permintaan beliau agar pertemuan itu lancar. Kami sudah memprediksi apabila kami pergi melalui bandara, sudah banyak wartawan yang menunggu. Kami tidak ingin berita keberangkatan itu dipublikasikan dulu. Kami ingin bekerja semaksimal mungkin terlebih dulu, baru kami laporkan kepada masyarakat seperti konferensi pers.
Nazar setuju bertemu Selasa, kok bertemunya Jumat, kenapa?
Begini, semua yang mempersiapkan pertemuan di Singapura adalah Pak Nazar, termasuk penginapan. Pada saat itu kebetulan beberapa hotel penuh karena weekend. Ketika beliau sudah mendapatkan tempat menginap, kami diminta berangkat. Yang jelas kami menginap di hotel Marina Mandarin. Setelah nyampai di hotel, kami ditelepon Pak Nazar untuk memberitahu pertemuan sekitar jam 9 malam di suatu tempat di luar hotel tersebut.
Kenapa pertemuannya di luar hotel?
Kita tidak tahu pertimbangan Pak Nazar. Secara kronologis kami terlebih dahulu yang datang. Setelah 30 menit beliau datang sendirian. Namun Pak Nazar bilang bahwa dirinya bersama beberapa temannya tetapi mereka berada di luar tempat pertemuan. Kita bertemu sekitar dua jam, cerita-cerita tentang banyak hal.
Komentar Nazar tentang testimoni dan SMS gelap?
Beliau tidak tahu-menahu soal itu. Lalu soal blog yang berisi testimoninya adalah bukan milik beliau tapi dia tahu ada orang yang mengutip dari pernyataan Pak Nazar.
Soal twitter, kami bilang kok persis ya Pak Nazar, tapi dia bilang semua itu (isi twitter) ada ketika beliau wawancara dengan salah satu repoter televisi swasta. Dari sana diambil pernyataan itu.
Apalagi yang dibicarakan?
Saya rasa isi obrolannya sama seperti kita ngobrol saja. Tugas kami melihat kondisi dia dulu, benar sakit atau tidak. Lalu kita tanyakan kapan pulang, tugas kita itu saja. Selain itu hanya ngobrol biasa.
Sumber: Rakyatmerdekaonline.com
| < sebelumnya | selanjutnya > |
|---|




Hanya orang-orang yang berjiwa jeleklah yang sering mengeluarkan kata-kata jelek"
malu mendengar kesaksian orang yang katanya pinter,cantik dan terlebih wakil rakyat...kacau ka..."