Dibaca: 783 kali Kamis, 02 Juni 2011 10:12
Rendahnya produktivitas kerja di negeri ini sudah lama dikeluhkan. Kondisinya bertambah parah gara-gara pemerintah gemar menetapkan cuti bersama.
Dalam 18 hari, pemerintah menetapkan cuti bersama selama dua kali, yakni 16 Mei lalu dan besok, 3 Juni 2011.
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat mengatakan, meski pemerintah menambah libur nasional dengan istilah curi bersama, penerapan hari libur masih belum efektif.
“Penetapan cuti bersama justru mengganggu produktifitas kerja, karena dilakukan tanpa perencanaan yang jelas dan terukur,’’ ujar” Komarudin’Hidayat kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
“Liburan memang menjadi selingan yang sangat menyenangkan bagi masyarakat. Namun, kalau dilihat dari produktifitas kerja, ini menyedihkan. Jangankan hari libur, nggak libur saja produktifitas masyarakat Indonesia sudah sangat redah,” tambahnya.
Seperti diketahui, Studi Badan Pusat Statistik dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia (UI) Tahun 2009 menyebutkan, tingkat produktivitas pekerja Indonesia kalah jauh dengan pekerja di China. Di pabrik garmen, misalnya, seorang pekerja China mampu menghasilkan 90 celana per hari. Sedangkan pekerja Indonesia hanya bisa menghasilkan 30-40 celana.
Di tahun yang sama, Organisasi Perburuhan Internasional menempatkan Indonesia di urutan ke-83 dari 124 negara dalam produktivitas tenaga kerja. Salah satu penyebab rendahnya daya saing. Indonesia hanya menduduki peringkat 35 dari 75 negara yang disurvei International Management Development.
Komarudin selanjutnya mengatakan, Indonesia terlalu dimanjakan oleh alam. Makanya, budaya kerja pemerintah dan masyarakatnya menjadi lebih santai.
Berikut kutipan selengkapnya:
Anda tidak setuju dengan penambahan hari libur di hari kejepit?
Saya bukannya tidak setuju dengan kebijakan cuti bersama. Kalau memang libur itu didisain, ya nggak masalah. Dengan demikian, penambahan hari libur tidak melestarikan budaya malas dan menurunkan produktifitas masyarakat. Tapi cuti bersama ini kan tidak jelas dan tidak terukur, sehingga melestarikan budaya malas.
Di negara lain, liburnya juga ada yang lama, seperti liburan musim panas. Namun, pada musim-musim lainnya, mereka bekerja all out dan penuh dedikasi.
Negara kita kan hanya memiliki dua musim?
Betul. Lalu, apakah itu menjadi kendala, harusnya tidak. Sebab, jika dibandingkan dengan sejumlah negara, Indonesia itu paling banyak memiliki hari libur nasional. Nah, jika ditambah dengan cuti bersama jumlah liburnya kan menjadi semakin banyak.
Pertanyaannya, apakah penerapan cuti bersama itu efektif. Jawabanya, tidak. Sebab, kebijakan tersebut dilakukan tanpa perencanaan yang jelas dan terukur.
Apa yang harus dilakukan pemerintah?
Pemerintah harus belajar dari kinerja yang ditunjukkan oleh bangsa Jepang, Korea Selatan, China, atau Singapura yang sangat sedikit libur nasionalnya. Hanya dengan produktivitas dan kinerja yang maksimal, upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di atas 6 persen akan bisa dicapai.
Bagaimana caranya agar punya kinerja yang tinggi?
Indonesia merupakan bangsa yang lembek. Sebab, jika dibandingkan degan Korea dan Jepang, daya tahan kerja Indonesia memang sangat rendah. Setiap hari, paling tinggi produktifitas masyarakat Indonesia hanya 8 jam. Sementara di Korea dan Jepang bisa mencapai 14 jam per hari.
Saya pernah berbicara dengan orang Jepang yang bekerja di Indonesia. Saat ditanya, kenapa Anda pulang malam. Dia menjawab, menurut kami tidak ada lagi yang dapat dibanggakan lagi kecuali kerja keras. Sebab, teknologi sudah merata. Pabrik mobil dan pabrik-pabrik lainnya sudah ada di seluruh dunia. Yang bisa kami banggakan hanya kerja keras.
Kalau di Indonesia apa yang dibanggakan?
Inilah yang harus menjadi pertanyaan kita bersama. Produknya apa, kerja kerasnya juga nggak, kan sangat memprihatinkan.
Apa solusi yang Anda sarankan?
Ke depan, pemerintah harus produktif dalam mengelola aset negara. Segala hal terkait pengeluaran aset harus diaudit, sehingga dapat mendukung produktifitas masyarakat.
Contohnya, 20 persen anggaran pendidikan itu kan aset. Pengeluaran anggaran negara itu harus berdampak pada peningkatan ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan. Itu juga investasi SDM. Makanya harus ditagih apa hasil dari investasi tersebut.
Untuk itu, harus ada produktifitas yang terukur. Pertanyaannya, ada atau tidak ukuran produktifitas itu. Kalau di kantor swasta, produktifitas menjadi prioritas karena mereka memiliki target.
Bagaimana kalau di kantor plat merah?
Jangan sampai ungkapan 905 alias datang Pukul 9, kerjaan 0 (kosong), pulang pukul 5 dijadikan kebudayaan.
Tidak adanya pemerataan tugas di perusahaan plat merah membuat produktifitas PNS tidak terukur dan terarah. Makanya ada orang yang sangat sibuk, tapi banyak yang menganggur. Sebab, nggak ada pemerataan.
Sumber: Rakyatmerdekaonline.com
| < sebelumnya | selanjutnya > |
|---|




Hanya orang-orang yang berjiwa jeleklah yang sering mengeluarkan kata-kata jelek"
malu mendengar kesaksian orang yang katanya pinter,cantik dan terlebih wakil rakyat...kacau ka..."