Selasa, 22 Mei 2012
            Mobile

Terjemahkan

Browse this website in:

Putting Beliung Mabes Polri

Bookmark and Share

Arah angin sedang tidak menentu, berganti-ganti asal dan tujuan. Kadang ke Barat, kadang ke Timur, lantas bermbus pula ke segala  ufuk. Tidak ada kepastian. Namun putting beliung itu  terus berputar di Mabes Polri. Telegram rahasia bernomor polisi 618/XI/2009 tanggal 24 November 2009 sudah dibuat.

Isinya: Susno dicopot dari Jabatan sebagai kabareskrim untuk selanjutnya dimutasikan sebagai perwira tinggi Polri non-job di Mabes Polri. Menurut Kapolri, pencopotan resmi itu merupakan  bentuk tanggung jawab Kapolri terhadap arahan presiden.

Di hari rabu, 25  Nopember 2009 itu, Susno baru saja sampai di rumah. Jam dinding menunjukkan angka 20:15 WIB. Bayang-bayang letih  menaungi wajahnya. Paras pria usia 55 tahun itu ramai diukir guratan-guratan senja.  Hari-hari belakangan  ini, hidupnya berjalan keras. Lubang-lubang mengangkang menunggunya terjengkang, jutaan tombak mengarah menantinya berdarah. Seusai mandi, shalat Isya dan makan malam, Susno duduk di depan televisi , Dia ingin meluruskan  pinggang. Namun begitu melihat siaran televisi, Susno menjublak! Hatinya teriris silet yang tajam..

Dilayar kaca itu, terpampang wajah keras Irjen Pol Nanan Sukarna menyampaikan  berita mutasi di lingkungan Polri. Ada 35 Periwra Tinggi dan Perwira Menengah yang bergeser posisi. Nama Susno berada pada urutan pertama.  “Komisaris Jenderal Polisi Drs. Susno Duadji, SH, MH, MSc,  jabatan semula  Kabareskrim Polri, dimutasi untuk jabatan baru sebagai Perwira Tinggi di Mabes Polri’, begitu berita yang disampaikan.

Grubyaaaak….!!! Berbagai perasaan kecamuk di batinnya. Pikirannya galau. Ini  artinya sama dengan non-job! Meja kosong! Tidak ada pekerjaan khusus! Susno merasa dilalimi. Marwahnya teraniaya, karena dia sama sekali tidak pernah diberi tahu atau dibisiki. Lagipula, sudah beratus kali mutasi di tubuh Polri berlangsung, namun tidak prnah ada yang diumumkan  dengan press release seperti ini. Kemana  perginya  etika yang selama ini dipegang Mabes?

Bagi susno, mutasi seperti ini bersifat demosi yang biasanya  dijatuhkan sebagai hukuman terhadap Perwira  yang sudah melewati proses pemeriksaan, pembelaan dan penjatuhan hukuman. Proses ini sama sekali tidak pernah terjadi atas dirinya. Batinnya ingin menjeritkan  protes, tetapi kematangan jiwa Bhayangkara melarangnya. Dia harus berkepala  dingin, mengunyah dan menelan penghinaan tanpa gerutu. Karut marut ini tak boleh disikapi dengan carut marut.

Susno duduk dengan selonjor sempurna. Kepala dibenamkannya di antara bantalan kursi. Bagai adegan film yang ditayangulang secara slow-motion, ingatannya menyuguhkan  gambar-gambar  tempo dulu. Ingat ketika pertam akali dia menjalani 280 kilometeruntuk mendaftar masuk institusi  Kepolisian, terkenang pada senyum simpatik Kombes yang membiarkannya berturs terang, waswas akan paras ayahnya Suadji dan terkenang  kepada Siti Athema, ibu yang melahirkan dan menyusuinya. Bayang-bayang besalasan wajah teru bergelantungan  di urat syarafnya. Iserinya Herawati, anaknya Indira dan Diliana, serta Almer dan Akmal, kedua cucu mungilnya. Sosok menantu dan sanak juga menyambanginya.

Ya Allah, apa arti semua ini?

Sepanjang  karir selama 32 tahun di kepolisian, belum pernah dia merasa tertindas seperti ini. Alangkah tiak adilnya perlakuan ini, setelah semua penugasan dan pengabdian, keikhlasan dan kerelaan, komitmen dan kesetiaan, ketaatan dan kepatuhan, tanpa pernah bertanya  mengapa dan kemana dia ditempatkan. “Sebagai Bhayangkara sejati saya selalu patuh, taat, loyal, setia, jujur, bertanggung jawab dan tidak pernah mengeluh,” gumamnya.

Susno menggleng kepala berulang-ulang dan beranjak ke lantai dua untuk berwudhu. Di kamar  yang hening, dia dirikan shalat dan mohon pengampunan Allah Azza Wajala,  atas segala dosa yang diperbuatnya, besar atau kecil, sengaja atau tidak sengaja.

Bukankah itu telah dijanjikan Allah kepada kita semua?

Wahai sekalian orang-lorang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; karena sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar.

Mimpi buruk Susno itu sebenarnya  sudah diawali  sinyal  sejak Presiden membentuk Tim Pencari Fakta tentang dugaan rekayasa kasus Bibit dan Chandra. Susno mencatat, di hari pertama bekerja, sebelum melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang tertentu, Tim-8 sudah mengeluarkan  rekomendasi- yang terkesan  sebagai tekanan-kepada Kapolri. Rekomendasi itu adalah : agar membebasan Bibit dan Chandra, menangkap Anggodo dan menonaktifkan Susno Duadji.

Di antara tiga rekomendasi  itu, butir yang paling sulit dilakukan kapolri adalah menonaktifkan  Susno, karena tidak  ada alasan tepat untuk melakukan itu. Kapolri, pasti menyadari itu, sebab  Susno sama sekali tidak pernah dilibatkan  dalam penyelidikan Bibit dan Chandra. Jadi bagaimana  mungkin  menonaktifkan  perwira yang tidak pernah ditugaskan  menangani kasus? Bukankah penyidikan  itu di handle oleh tim yang dibentuk langsung  di bawah kendali Kapolri?

Sejauh ini, hal yang mungkin bisa dijelaskan  Susno kepada Tim-8 Cumalah isu pelontaran istilah cecak-buaya, isu membantu pencairan dana Budi Sampoerna di Bank Century dengan dugaan imbalan Rp. 10.000.000.000,  isu berbicara di televise tanpa izin dan isu pemanggilan wartawan .  Tapi tentang perekayasaan kasus Bibit dan Chandra? “Saya tidak tahu itu.  Kapolri sebagai pemberi komando, dia yang sangat tahu tentang itu,” ujar Susno.

Susno sudah dihakimi. Kapolri terkesan tidak membelanya. “Padahal apa sih tugas yang tidak saya patuhi?” terawang Susno. Tapi dia tetap tidak berontak. Dia memilih diam dan membentang  sajadah. Inilah saat menyungkurkan diri bersembah untuk mengadukan  segala sesuatu kepada Allah, tempat  dia bersandar  selama ini. Dalam kekerdilannya dia ingin bercakap-cakap, menyampaikan  kesah dan keluh, memohon  segala kemurahan dan pengampunan. Selalu ada saat untuk membentang  sajadah panjang, selalu ada saat untuk bersujud dan memasrahkan segala petaka kepada Yang Maha Besar.

Allahu Akbar! Susno tunduk, rukuk dan sujud, tak lepas kening dari kelembutan sajadah, berserah kepada Allah, penuh seluruh.

Sumber: Buku “Bukan Testimoni Susno”, karangan  Izharry Agusjaya Moenzir


Info TerkiniTerpopulerLain - lain

Komentar 

 
0 #1 Biduk dari desaA. Rudy 18-04-2010, 10:46
Teruskan perjuangan pak..., Jembatan Merah Sungguh Gagah, walaupun hanya sebuah biduk dari sungai musi namun tak pernah gentar mengharungi lautan nan luas walau diterpa badai dan hempasan gelombang samudra, Sekali Layar Berkembang Surut untuk Berpantang
Balas tanggapan
 
 
0 #2 group dukungan di facebookadhan 18-04-2010, 11:31
mohon ijin saya berani memberikan info ini.....tanpa ada paksaan dari siapapun.....saya dengan sengaja membuat group dukungan ini....mohon ijin bapak berkenan utk mengunjungi nya.....terima kasih....

http://www.facebook.com/group.php?gid=110309395669608&ref=mf
Balas tanggapan
 
 
-1 #3 LANJUTKANADAULY 18-04-2010, 21:35
LANJUTKAN PERLAWANAN PADA KETIDAK ADILAN, PETINGGI POLRI SAJA BISA DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL, APALAGI RAKYAT JELATA..... DIMANA WIBAWA HUKUM....????
Balas tanggapan
 
 
+2 #4 Guest 18-04-2010, 22:57
sejauh ini saya ngak pernah bangga dengan aparat hukum yang kita miliki. tapi saya sangat bangga dengan apa yang telah bapak perbuat.saya hanya bisa berdo'a agar niat baik bapak sebagai penegak hukum mendapat lindungan allah s.w.t. walaupun di sekeliling kita banyak kemunafikan.
Balas tanggapan
 
 
0 #5 Semua udah diatur sebelum kita dilahirkan.Muhammad zamri 19-04-2010, 12:55
Semua udah diatur oleh Allah sebelum kita dilahirkan.. bersabar itulah kata yang tepat untuk pak Susno kerena dibalik cobaan itu ada hikmah nya.
Lanjutkan perjuanganmu menegak kebenaran.. jutaan rakyat Indonesia mendukungmu.. orang bodoh sekalipun tahu bahwa Pak Susno orang yang bertindak atas kebenaran.
Balas tanggapan
 
 
0 #6 M. Arif Nur Ch 22-04-2010, 09:52
Selama ini sy tdk begitu bangga dng institusi penegak hukum di negeri ini, tp sy sngt bangga dan salut pd keberanian dan pengabdian bapak susno, semoga Tuhan selalu melindungi orang2 seperti pak susno yg ada di negeri ini, amiin.
Balas tanggapan
 
 
0 #7 eryk 23-04-2010, 01:26
saya kurang simpati pada polisi dari sejak dulu. tapi ketika mengetahui sosok Susno Duadji saya percaya bahwa tak semua polisi sama dengan apa yang ada dalam pikiran saya...Maju terus Pantang Menyerah Pak,,,semakin anda ditekan dan di Intimidasi,maka akan semakin terkuak semua kebusukan yang ada di negara ini,,,
Balas tanggapan
 
 
0 #8 Guest 23-04-2010, 06:02
Sy benci polisi,hrsx mereka melindungi masyarakat bkn melecehkanx,sy adalah korban pak tp sy gak bisa lapor krn dah direncanakan dgn baik n sy gak punya bukti. Sy bangga ada polisi spt pak susno gulung semua polisi jahat pak!!!
Balas tanggapan
 

Tulis komentar


Kode Keamanan
Refresh

Mobile