Dibaca: 1762 kali Ditulis oleh IzHarry Agusjaya Moenzir
Susno Duadji terlahir sebagai anak ke dua dari delapan saudara. Duadji ayahnya, asli warga pagar Alam, lahir, besar dan beranak pinak di Sumatera Selatan. Mereka adalah keluarga yang bersahaja sejak leluhur, tanpa seorangpun pernah memiliki kedudukan tingi. Inilah potret manusia-manusia sederhana dari keluarga kelas bawah, sosok-sosok yang tidak pernah dan tidak berani bermimpi tentang kemulukan . Mereka tidak hanya memicing mata agar tidak terkesima pada kemewahan, tetapi juga melarang diri terhadap kelayakan.
Hidup keluarga ini sepenuhnya bersandar pada bentangan bidang-biang tanah yang dijadikan lahan pertanian. Bekerja di ladang, menanam flora dan menernak fauna, mengolah tanah, menyemai biji dan menyiramnya agar bumi mencuatkan tanaman pemberi kehidupan. Sungguh sederhana siklus itu, mencari nafkah pagi untuk dimakan siang bekerja di siang hari untuk santap malam dan menyimpannya sedikit untuk sarapan pagi esok hari.
“Seluruh keluarga saya orang kecil. Tidak ada yang memiliki kekayaan dan jabatan tinggi. Saya jadi polisi Cuma terbawa nasib saja,” kenang Susno.
Keluarga Duadji tidak membicarakan masa depan yang terlalu jauh. Pandangan Cuma selintas hari, saat mentari mumcul di Timur dan dan tergelincir di ufuk Barat. Sekolah cuma sedapatnya saja. Jika telah bisa baca-tulis, itu cukup, sebab pendidikan yang tinggi terletak dalam jarak mimpi. Sekolah Menengah Atas adalah batas maksimal, tidak perlu berlanjut ke Universitas. Uang tidak ada. Jangan berkhayal jadi sarjana, tetapi jika berminat, silahkan berupaya sendiri.
“Cari sekolah gratis,” anjur Pak Duadji yang dalam hidupnya senantiasa mengidolakan Presiden Sukarno sehingga menamakan anaknya dengan satu kata tunggal saja; Susno. Maka seperti Sukarno pula, Pak Duadji tidak membunuh cita-cita, dan realitas kemiskinan tidak boleh memunahkan intelegensia. Sekolah gratis harus dicari.
Ucapan ayahnya itu terpancang kokoh di hati Susno, berubah bentuk menjadi tekad untuk kmencari sekolah yang tidak perlu membayar. Karena itulah, setelah mnyelesaikan SMA di lahat, dengan menempuh jarak sekitar 280 kilometer, Susno menumpang-numpang kendaraan menuju Palembang, dengan harapan dapat masuk di Fakultas Pertanian. Warisan keahlian keluarga dalam bercocok tanam diharapkan bisa membebaskannya dari biaya. Apalagi Susno Cuma bercita-cita ingin menjadi Penyuluh Pertanian. Sebuah cita-cita sederhana anak desa, karena pekerjaan itu akan memberi kesempatan baginya untuk bersepeda motor.
“Saya ingin naik motor,” kata Susno yang terkagum-kagum pada kegagahan para Penyuluh Pertanian keluar masuk desa.
Namun mimpi itu buyar dalam sekejap. Menurut peraturan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, setiap mahasiswa harus membayar. Tidak ada yang gratis. Tidak ada beasiswa. Susno mesti mengeluarkan uang, membayar, sesuatu hal yang musykil baginya. Maka tanpa ada jalan lain, Susno pun surut. Apa boleh buat, mimpi akan kegagahan pengendara sepeda motor pun punah.
Luluh dalam rasa kecewa, seorang sanak memberi informasi tentang sekolah yang tidak perlu bayar.
“Pendaftaran untuk jadi polisi sedang dibuka,” ujar sanaknya. Dan Susno langsung membersitkan pertanyaan pertamanya.
“Bayar?”
Saudaranya menggeleng panjang. Akabri kepolisian yang sedang memasuki tahun ajaran baru membuka peluang bagi yang berbadan kuat dan berjiwa sehat. Tidak perlu keluar uang. Gratis.
Setelah yakin tidak akan ada bayar-bayaran, Susno pun mendaftar. Segala macam tes diikutinya dan semua bisa dilalui dengan baik. Tubuhnya yang terbiasa dengan kerja keras, ditambah ketajaman berpikir, membuat Susno sampai ke tahap wawancara, dan diberangkatkan ke Sukabumi. Meski diliputi keraguan, dia terus maju, tidak mundur oleh kekhawatiran.
Susno masih ingat, ketika di Sukabumi ada tiga polisi yang mewawancarai. Salah seorang yang duduk di tenah sepertinya berpangkat kolonel, melemparkan Tanya.
“Apa alasan kamu masuk AKABARI Kepolisian?”
“Karena sekolah ini tidak bayar, Pak!” Tegas Susno Jujur.
“Apa pandangan mu tentang polisi?”
“Saya tidak suka sama Polisi, Pak.”
Hening sejenak, tapi colonel Polisi itu menyambar.
“Kenapa tidak suka sama Polisi?”
“Polisi suka minta duit, Pak!” Jawab Susno tanpa pertimbangan
Dengan sudut matanya yang tajam, Susno melihat roma merah di wajah para polisi itu, membuat dirinya membutirkan sesal. Sebab bisa saja wawancara dihentikan dan langsung ditolak, tak bisa bersekolah. Kedua polisi itu kelihatannya juga sudah siap mengumbar amarah. Kecuali sang Kolonel. Sambil menyikut kedua temannya dia menyela.
“lho, kok Anda bilang begitu? Punya Bukti?”
“Punya, Pak,” Jawab Susno
“Apa buktinya?”
“Ayah dan Mamang (paman) saya, Pak. Mereka kenak dan supir, sering dimintai duit sama polisi.”
Seiring kalimat itu meluncur, Susno pun pasrah. Tidak akan ada sekolah. Bertani sajalah. Jantung Susno dag-dig-dug, karena saringan terakhir untuk diterima sebagai Taruna Polisi ditentukan di Sekolah Polisi di kota itu. Jika bisa lulus disana, baru akan ditransfer ke Magelang. Tapi jika tidak lulus, bagaimana nasibnya?
“Saya dihantui bayang-bayang kegagalan. Kalau tidak lulus, terkaparlah saya. Terpaksa balik kampung ke Lahat.
“Saya sudah hitung, jika jual sepatu dan celana, yangnya tetap tidak bisa dijadikan ongkos pulang.”
Susno menjatuhkan kepastian
“Kalau tidak lulus, kami sediakan ongkos pulang,” jawab instruktrunya.
Hati Susno lega!
Tapi akhirnya Susno tidak pernah mendapat ongkos pulang itu. Polisi tidak memberinya. Ya, karena dia berhasil lulus dari Sukabumi dan sangat layak berlanjut menuju magelang, menyongsong gojlokan candradimuka.
Allah memang Maha Besar. Alhamdulillah, saya lulus,” bantin Susno, meski tidak mengerti mengapa bisa lulus seleksi. Hasil ujiannya bagus, kesehatannya prima, namun kegamblangannya bisa membbayahakan diri. Keterusterangan memang tidak selalu baik. Harus ada tata cara dalam berbicara, harus pandai berkomunikasi. Dia harus belajar the way of saying things
Dalam renungan, Susno menduga tiga kemungkinan yang membuatnya diterima menjadi taruna Polisi. Pertama, Pantitia seleksi mengasihani dirinya. Kedua, karena dia lahir tanggal 1 Juli yang juga merupakan hari Bhayangkara.
“Yang ke tiga krena polisi pewawancara itu menghargai keterus terangan saya,”katanya.
Apapun alasannya, kelulusan Susno pastilah tidak terlepas dari pengaruh open-minded sang colonel. “Saya sangat terkesan kepadanya. Untung ada dia,”ujar Susno. “Dialah polisi berjiwa reformis pertama yang saya kenal. Sayang ini seperti dia.”
sumber: Buku "Bukan Testimoni Susno"
| < sebelumnya |
|---|




Komentar