Dr. Adnan Buyung Nasution,"Bagi saya, Susno Duadji memiliki integritas yang sangat baik, cerdas, profesional dan juga memiliki keberanian untuk bertindak." BOLEH jadi, ini merupakan peristiwa langka dan layak tercatat dalam sejarah di Tatar Sunda, seorang tokoh kepolisian berdarah Palembang Sumatra Selatan bersikeras mencintai Jabar.
"Saya lahir di Pagaralam Palembang Sumatra Selatan. Pernah diamanahkan-Nya di Jawa Timur. Tapi, saya jatuh cinta dengan Jabar dan sulit melupakannya. KTP saya adalah warga Kota Bandung, karena dibuatkan KTP seumur hidup oleh Walikota Dada Rosada. Dalam pemilu Pilkada dan Caleg lalu, istri dan keluarga saya, mencoblos di TPS Jabar, bukannya di Jakarta. Terus terang, hingga wafat kelak, saya tidak akan mempermalukan warga Jabar," kata Susno Duadji kepada Pemimpin Umum "PR", H. Syafik Umar dan tokoh Antikorupsi-Antikemaksiatan, H. Nanang Iskandar Ma'soem, di Bandung, Jumat (11/12) malam.
Seraya mengenang saat pertama kali bertugas sebagai Kapolda Jabar pada 2008, Susno Duadji menuturkan ceritanya tentang semaraknya kasus korupsi dan kemaksiatan atau "penyakit masyarakat" seperti perjudian, pelacuran, minuman keras (miras), tumbuh suburnya geng-geng premanisme angkutan transportasi,
pungli di jalan raya oleh oknum polisi, pungli di Kantor Samsat dalam pengurusan SIM/STNK, dan sejenisnya.
Seusai pelantikan dan serahterima jabatan pada Rabu, 30 Januari 2008, Susno Duadji mengumpulkan seluruh perwira Satlantas dari tingkat Polres hingga yang tugas di Polda Jabar. Pada pukul 16.00 WIB itu, Susno duadji memerintahkan pemberantasan pungli di lingkungan Satlantas.
"Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tapi pengusaha. Polisi itu pelayan masyarakat, bukan malah ingin dilayani. Perwira Satlantas dari pangkat AKP hingga Kombes, seluruhnya menandatangani pakta kesepakatan bersama peningkatankuantitas dan kualitas pelayanan kepada masyarakat," ujar Susno Duadji. Dalam dialog yang diselenggarakan oleh Komunitas Antikorupsi-Antikemaksiatan Al Ma'soem, dan The Six Million Susno Duadji Fans Club itu, Susno Duadji sempat mendengarkan pula beberapa data yang diungkapkan peserta dialog seputar keberhasilannya menenteramkan warga Jabar tatkala masih menjabat Kapolda Jabar.
"Waktu itu, kami mengira Pak Susno Duadji minimal di Jabar sekitar dua tahun sehingga kasus korupsi dan kemaksiatan di Jabar bisa lebih banyak diberantas.Tapi, ternyata hanya 9 bulan 3 pekan. Ya, kami ikhlaskan kepergiannya bertugas di Mabes Polri," ujar H. Nanang Iskandar.
Lalu, bagaimana dengan nasib Susno Duadji sekarang di Mabes Polri?
Pertanyaan semacam itulah yang muncul berkali-kali selama Susno Duadji berdialog di tiga tempat (di Jln. Pudak Bandung, Kampus Al Ma'soem, dan gedung IKA Unpad Bandung).
"Pertanyaan itulah yang saya jawab melalui kehadiran sekarang. Kehadiran dan pertemuan saya yang diprakarsai seorang sahabat (dari The Six Million Susno Duadji Fans Club) sesungguhnya merupakan pertanggungjawaban saya kepada warga Jabar. Yang terjadi dan saya alami sekarang ini adalah ketidakadilan, dan saya terpaksa harus melakukan klarifikasi sendiri karena lembaga yang saya harapkan membantu ternyata tidak melakukannya. Mungkin lembaga itu sedang sibuk," kata
Susno Duadji.
Dikemukakannya, ada anggapan bahwa Susno Duadji itu dicopot. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah atas keinginan sendiri demi kepentingan institusi Polri dan NKRI. Kenapa? Karena, bagi perwira seperti dirinya sebenarnya hanya dapat dicopot apabila ada keputusan salah dari instansi terkait. "Yang terjadi kan saya sudah dua kali diperiksa oleh Irwasum, dan satu kali disidang oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ternyata saya dinyatakan tidak bersalah," tuturnya.
Bagaimana dengan kasus Bibit-Chandra? "Dalam kasus itu, saya kan tidak ikut campur karena yang menanganinya langsung dipimpin Kapolri, BHD. Saya ditugaskan oleh Kapolri menangani kasus Bank Century," jawabnya.
Soal isu menerima uang Rp 10 miliar? "Demi Allah, itu juga tidak benar, karena saya tidak menerimanya. Hingga sekarang, tidak ada pihak yang mengadukan kasus tersebut. KPK atau LSM tidak ada yang mengadukan saya. Jika saya mau, sejak dulu sudah dapat ratusan milyar rupiah. Dalam pengusutan kasus Bank Century, misalnya, saya malah menyelamatkan uang Negara puluhan trilyunan rupiah. Kalau
pun dibilang ada hasil sadapan, tolong buktikan? Orang yang saya ajak bicara dalam kaitan isu itu, kan masih hidup. Tinggal diperiksa saja kalau memang benar," kata Susno Duadji.
Ihwal istilah "Cicak-Buaya"? "Itu tidak benar, karena hasil rekayasa pihak ketiga. Yang benar ialah ada pers tanya apa bedanya Polri dan KPK? Saya jawab, kalau dalam hal teknologi, Polri itu buaya karena teknologinya canggih, sedangkan KPK itu mirip cicak. Tapi, kalau soal wewenangnya, KPK itu buaya karena berdasarkan UU bisa menangkap dan menahan tanpa terlebih dulu menyelidiki dan menyidik. Sedangkan Polri itu cicak. Tapi ada oknum pers yang langsung menstempel Polri itu buaya, KPK itu cicak dan masyarakat mau-maunya dibohongi oleh oknum pers tersebut," jawab Susno Duadji.
Tentang isu Susno Duadji memanggil Redaksi Kompas dan Sindo dalam pengusutan
kasus rekaman Anggodo tanpa koordinasi dengan Kapolri?
"Lagi-lagi itu, tidak benar, karena waktu itu kan saya sedang non-aktif. Mestinya Divisi Humas Mabes Polri beramal sholeh menyanggah ini, tapi kan mereka diam saja. Jadi, pada perilaku apa sesungguhnya saya salah, itu hingga sekarang tidak jelas dan karenanya saya perlu meluruskan ini semua," ungkap Susno Duadji, seraya menawarkan kepada pihak mana pun untuk segera mengadukan kesalahan dirinya apabila memang ada dengan catatan "jangan direkayasa".
Mendengar klarifikasi itu, para peserta dialog yang mayoritas dari berbagai lapisan masyarakat ini pun terperanjat merasa prihatin. "Saya berdoa Pak Susno Duadji dan keluarga diberikan ketabahan menghadapi kezaliman ini. Mudah-mudahan, Allah SWT segera mengungkapkan kebenaran di atas kebathilan yang sudah telanjur semarak akhir-akhir ini," kata Ustadz Abu Syauqi, sesaat akan memimpin doa bersama di akhir dialog.
Pernyataan dan doa keprihatinan senada juga disampaikan oleh tokoh pembaca "PR" lainnya, yakni ustadz Drs. KH. Bukhari Muslim dan KH Saeful Abdullah tatkala dialog di Jl. Pudak, Bandung, yang berakhir saat larut malam. Hadirin yang notabene para aktivis antikorupsi dan antikemaksiatan di Jabar ini, berharap
Allah SWT tetap memberikan sikap istiqomah dan kekuatan kepada Susno Duadji dan keluarga sehingga cita-cita mewujudkan negeri NKRI yang bebas dari korupsi dan kemaksiatan serta sejahtera dan penuh kedamaian dapat terwujud.
Di akhir acara, Susno Duadji memberi cendera mata kepada peserta pertemuan berupa buku hasil karyanya. Ada yang mengejutkan, ternyata dalam bukunya berjudul "Perjalanan KUHAP Seperempat Abad Lebih" halaman XVI-XVII—Dr. Adnan Buyung Nasution menulis pada 8 April 2009,"Bagi saya, Susno Duadji memiliki integritas yang sangat baik, cerdas, profesional dan juga memiliki keberanian
untuk bertindak."
(Achmad Setiyaji/Pendiri grup facebook The Six Million Susno Duadji Fans
Club)***
| < sebelumnya | selanjutnya > |
|---|



Komentar
maju terus pak ;-))
Maju terus bapak Susno Duadji
GBU xxx
Kita sangat membutuhkan warga republik ini seperti Pak Susno, tidaklah mungkin hal itu bisa dilakuan warga negara biasa, jenderal bintang tiga menginginkan republik ini bebas dari korupsi saja sangat sulit dan tantangannya berat apa lagi yg bukan jenderal, marilah kita bertobat bersama sama dengan merendahkan hati dan pikiran kita... jangan sampai jenderal Yang Maha Kuasa yang menciptakan langit dan bumi yang akan membongkar dan melaknat kita, sangat mudah bagi Allah SWT untuk menghancurkan kita semua... semoga itu tidak terjadi di negeri ini yang tercinta yang saat mendirikian republik ini dengan darah dan kematian, Sejarah akan mengukir namamu jenderal Susno... doa kami dari jutaan masyarakat Indonesia yang mendambakan negeri yang makmur