Dibaca: 4052 kali Ditulis oleh IzHarry Agusjaya Moenzir
Kumpulan ilmu, jabatan, penugasan dan gejolak hidup yang tidak mudah kemudian mengantar Susno menjadi Kapolda Jawa Barat. Terhitung Sejak 23 Januari 2008, Susno resmi menggantikan Irjen Pol Soenarko Danu Ardanto, dengan bersandar kepada Keputusan Kapolri Jenderal Sutanto dengan No. Pol: Kep/11/I/2008.
Memang, Cuma
“Jangan pernah setori saya!” hentak Susno.
Menurut Susno, perilaku memeras atau menerima setoran itu adalah perilaku zaman zahiliah. Tidak perlu lagi ada anggta yang menyetor ke Kasatlantas atau ke Kasatserse, Kapolres menyetor ke Kapolwil yang nanti akan menyetor untuk melayani Kapolda.
“Jangan pernah setori saya! Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran!” tegasnya.
Ruangan mendadak dingin dan sepi. Ucapan Kapolda yang baru bertugas
“Tidak perlu ada setoran-setoran! Tidak perlu ingin kaya! Dari gaji sudah cukup! Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat! Kita ini pelayan masyarakat bukan sebaliknya, malah ingin dilayani! Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya saya main copot-copotan jabatan!”
Perintah itu tak hanya menggema di ruang rapat Mapolda Jabar, tetapi juga bergaung ke seluruh penjuru, khusunya provinsi Jawa Barat. Isinya jelas, yaitu tidak ada lagi pungli (pungutan liar) di Satlantas, baik di lapangan dengan tilang (bukti pelanggaran), maupun di kantor dalam pelayanan SIM, STNK, BPKB dan lain-lain.
Susno jelas tidak sedang bercanda. Dan tidak akan pernah bercanda jika yang menyangkut masalah kedinasan. Pengalaman kerja di PPATK sebagai lembaga yang bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat Susno menjadi sangat firm dan teguh. Itukah yang membuat dia terus menabuh genderang perang terhadap pungli?
“Tidak Cuma pungli!” kata Susno. “Kalau pungli, terkesan ketercelaan perbuatan itu kecil. Yang kita perangi itu korupsi. Pungli adalah korupsi. Korupsi itu salah! Apalagi jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita sebagai aparat hukum bisa membrantas kourpsi kalau kita sendiri korupsi?”
Di tahap awal instruksinya, Susno berniat lebih dulu membersihkan dalam tubuh Polri. “Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur dan lain-lain kalau di dalam belum bersih dari korupsi? Kalau aparat korupsi, tamatlah republiki ini, “ katanya lagi. Polisi harus membuka diri untuk diperiksa, karena menurutnya, upaya pemberantaasan korupsi bukan harus dimulai dari tingkat bawah, melainkan dari pimpinan tertinggi.
“Periksa saya dan keluarga saya. Sesudah itu baru periksa pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian turun ke Kapolwil, Kapolres dan seterusnya,” tambahnya. “Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya, tetapi mulai dari pemimpin tertingginya.
Susno menjelaskan, Polri tidak perlu takut jatuh merek jika menangkap Kolonel Polisi atau polisi berbintang berapa saja. Tak perlu ada rasa takut, karena rakyat pasti akan senang jika Polisi bebas dari korupsi. Polisi itu milik rakyat. “Apa yang ditakutkan? Saya justru merasa lebih tidak terhormat jika berada di dalam kesatuan yang penuh korupsi,” tegasnya.
Bagi Susno, mengusut kasus korupsi sebenarnya jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap pencurian jemuran memerlukan polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, sepeti orang iseng, orang yang sedang lewat dan orang-orang lain. Mengusut kasus korupsi tidak butuh polisi yang terlalu pintar, karena Cuma tinggal mengikuti aliran dantanya saja. Just follow the money, pasti ketemu.
“Jadi, kata siap sulit? Sulit dari mananya?” tutur Susno. “Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupski. Kuncinya Cuma satu, kamauan yang kuat.”
Disisi lain, Susno memang mengakui pemberantasan korupsi agak lambat karena biasanya berhadapan dengan orang-orang yang memegang jabatan. Orang-orang berjabatan itu gampang tergoda melakukan korupsi. Tinggal batuk, uang datang. “Jadi masalahnya ada pada diri sendiri. Tepuklah dada, tanyalah selera, apakah mau terjerumus di dalam kenikmatan korupsi yang sesaat, atau mau bekerja dengan bersih?”
Susno juga mengajak jajaran Polri untuk belajar sepanjang masa. Dan Susno sudah melakukannya dengan menulis buku berjudul “Selayang Pandang: Praktik Pencucian Uang dan Kejahatan Asal” terbitan Juli 2008, yang merupakan refleksi pemikirannya sewaktu menjabat sebagai Wakil Kepala PPATK. Dia berharap polisi punya waktu luang untuk membaca. Polisi harus membangun jiwa dan memperdalam ilmu, jangan Cuma bangga karena mampu membangun kantor yang megah.
“Jangan lagi ada Kapolsek, Kapolres dan Kapolwil yang bangga kaena mampu membangun kantor dengan megah. Dari mana duitnya, kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap seperti pengusaha judi dan pelaku penyelundupan?” sinyalir Susno.
Untuk semua itu, Susno berkeyakinan tidak akan ada pro-kontra di kalangan Polri. Peraturan sudah jelas, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dengan ancaman pemecatan. Tidak perlu diperdebatkan. Titik. Setiap pemimpin harus mengorbankan kenikmatan dan kepuasan. Polisi harus punya malu.
“Malu dong, polisi pakai bintang, jalan petantang-petenteng, tetapi jajarannya korupsi dan memberi pelayanan yang tidak sesuai standar. Malu dong, polisi pakai bintang lewat bermobil seenaknya pakai nguing-nguing (sirene), sementara rakyat mengalami macet. Itu juga korupsi.”
Bagi Susno, polisi yang korup sama dengan pelacur. Jadi kalau dia korup, dia sama saja dengan pelacur.
Sumber: Buku “Bukan Testimoni Susno”
Topik menarik lainnya secara lengkap bisa di baca di Buku Bukan Testmoni Susno karangan IzHarry Agusjaya Moenzir
| < sebelumnya | selanjutnya > |
|---|




Komentar
pak susno...jangan takut... kami ada di depan, dibelakang, disamping kiri dan kanan , serta atas dan dan bawah...........mendukungmu.