Selasa, 22 Mei 2012
            Mobile

Terjemahkan

Browse this website in:

Jangan Pernah Setori Saya

Bookmark and Share

Kumpulan ilmu, jabatan, penugasan dan gejolak hidup yang tidak mudah kemudian mengantar  Susno menjadi Kapolda Jawa Barat. Terhitung Sejak 23 Januari 2008, Susno resmi menggantikan  Irjen Pol Soenarko Danu Ardanto, dengan bersandar  kepada Keputusan Kapolri Jenderal Sutanto dengan No. Pol: Kep/11/I/2008.

“Saya mempunyai trik khusus untuk pengamanan  Jawa Barat, tapi jangan Tanya sekarang,” ujar Susno seusai acara pisah-sambut dari Mapolda Jabar. “Beri saya waktu beberapa hari, baru nanti saya akan bicara.

Memang, Cuma lima hari setelah menjabat, Susno langsung menggembrak. Dia kumpulkan seluruh perwira  Satuan Lalulintas, mulai dari tingkat Polres hingga tingkat Polda. Meski bicara dengan gaya santai dan mengambil waktu 10 menit, namun kalimat-kalimat Susno menyentak seluruh jajaran.

 

“Jangan pernah setori saya!” hentak Susno.

Menurut Susno, perilaku memeras atau menerima setoran itu adalah perilaku zaman zahiliah. Tidak perlu lagi ada anggta yang menyetor ke Kasatlantas atau ke Kasatserse, Kapolres menyetor  ke Kapolwil yang nanti akan menyetor untuk melayani Kapolda.

“Jangan pernah setori saya! Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran!” tegasnya.

Ruangan mendadak dingin dan sepi. Ucapan Kapolda yang baru bertugas lima hari  ini kelihatannya bukan sekedar gertak. Dengan gaya khas yang suka lirak-lirik, Susno menebar sorot mata menghujam.

“Tidak perlu ada setoran-setoran! Tidak perlu ingin kaya! Dari gaji sudah cukup! Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat! Kita ini  pelayan masyarakat bukan sebaliknya, malah ingin dilayani! Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya saya main copot-copotan jabatan!”

Perintah itu tak hanya menggema di ruang rapat Mapolda Jabar, tetapi juga bergaung ke seluruh penjuru, khusunya provinsi Jawa Barat. Isinya jelas, yaitu tidak ada lagi pungli (pungutan liar) di Satlantas, baik di lapangan dengan tilang (bukti pelanggaran), maupun di kantor dalam  pelayanan SIM, STNK, BPKB  dan lain-lain.

Susno jelas tidak sedang bercanda. Dan tidak akan pernah bercanda jika yang menyangkut masalah kedinasan. Pengalaman kerja di PPATK sebagai lembaga yang bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat Susno menjadi sangat firm dan teguh. Itukah yang membuat dia terus menabuh genderang perang terhadap pungli?

“Tidak Cuma pungli!” kata Susno. “Kalau pungli, terkesan ketercelaan perbuatan itu kecil. Yang kita perangi itu korupsi. Pungli adalah korupsi. Korupsi itu salah! Apalagi jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita sebagai aparat hukum bisa membrantas kourpsi kalau kita sendiri korupsi?”

Di tahap awal instruksinya, Susno berniat lebih dulu membersihkan dalam tubuh Polri. “Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur dan lain-lain kalau  di dalam belum bersih dari korupsi? Kalau aparat korupsi, tamatlah republiki ini, “ katanya lagi. Polisi harus membuka diri  untuk diperiksa, karena menurutnya, upaya pemberantaasan korupsi bukan harus dimulai dari tingkat bawah, melainkan dari pimpinan tertinggi.

“Periksa saya dan keluarga saya. Sesudah itu baru periksa pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian turun ke Kapolwil, Kapolres dan seterusnya,” tambahnya. “Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya, tetapi mulai dari pemimpin tertingginya.

Susno menjelaskan, Polri tidak perlu takut  jatuh merek jika menangkap Kolonel Polisi atau polisi berbintang berapa saja.  Tak perlu ada rasa takut, karena rakyat pasti akan  senang jika Polisi bebas dari korupsi. Polisi itu milik rakyat. “Apa yang  ditakutkan? Saya justru merasa lebih tidak terhormat jika  berada di dalam kesatuan yang penuh korupsi,” tegasnya.

Bagi Susno, mengusut  kasus  korupsi sebenarnya jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap pencurian jemuran memerlukan polisi yang pintar karena banyak kemungkinan  pelakunya, sepeti orang iseng, orang yang sedang lewat dan orang-orang lain. Mengusut kasus korupsi tidak butuh polisi yang terlalu pintar, karena Cuma tinggal mengikuti aliran dantanya saja. Just follow the money, pasti ketemu.

“Jadi, kata siap sulit? Sulit dari mananya?” tutur Susno. “Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupski. Kuncinya Cuma satu, kamauan yang kuat.”

Disisi lain, Susno memang mengakui pemberantasan korupsi agak lambat karena biasanya berhadapan dengan orang-orang yang memegang jabatan. Orang-orang berjabatan itu gampang tergoda melakukan korupsi. Tinggal batuk, uang datang. “Jadi masalahnya ada pada diri sendiri. Tepuklah dada, tanyalah selera, apakah mau terjerumus di dalam kenikmatan korupsi yang sesaat, atau mau bekerja dengan bersih?”

Susno juga mengajak jajaran Polri untuk belajar sepanjang masa. Dan Susno sudah melakukannya dengan menulis buku berjudul “Selayang Pandang: Praktik Pencucian Uang dan Kejahatan Asal” terbitan Juli 2008, yang merupakan refleksi pemikirannya sewaktu menjabat sebagai Wakil Kepala PPATK. Dia berharap  polisi punya waktu luang untuk membaca. Polisi harus membangun jiwa dan memperdalam ilmu, jangan Cuma bangga karena mampu membangun kantor yang megah.

“Jangan lagi ada Kapolsek, Kapolres dan Kapolwil yang bangga kaena mampu membangun kantor dengan megah. Dari mana duitnya, kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap seperti pengusaha judi dan pelaku penyelundupan?” sinyalir Susno.

Untuk semua itu, Susno berkeyakinan tidak akan ada pro-kontra di kalangan Polri. Peraturan sudah jelas, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dengan ancaman pemecatan. Tidak perlu diperdebatkan. Titik. Setiap pemimpin harus mengorbankan  kenikmatan dan kepuasan. Polisi harus punya malu.

“Malu dong, polisi pakai bintang, jalan petantang-petenteng, tetapi jajarannya korupsi dan memberi pelayanan yang tidak sesuai standar. Malu dong, polisi pakai bintang lewat bermobil seenaknya  pakai nguing-nguing (sirene), sementara rakyat mengalami macet. Itu juga korupsi.”

Bagi Susno, polisi yang korup sama dengan pelacur. Jadi kalau dia korup, dia sama saja dengan pelacur.

Sumber: Buku “Bukan Testimoni Susno”

Topik menarik lainnya secara lengkap bisa di baca di Buku Bukan Testmoni Susno  karangan IzHarry Agusjaya Moenzir


Info TerkiniTerpopulerLain - lain

Komentar 

 
+12 #1 Semoga sejarah bangsa kita mencatatnyaAde Gumilar 02-04-2010, 23:38
Salut buat pak Susno, saya sebagai rakyat indonesia sangat mendukung dan merasa bangga memiliki polisi seperti bapak, mudah2an pengorbanan, pemikiran, ucapan dan tindakan bapak menjadikan inspirasi bagi para pemimpin bangsa yg lainnya,karena sebagai pemimpin bangsa kita yg sedang sakit ini tidak hanya cukup dengan pemimpin yg jujur dan bersih saja, tapi harus juga berani bertindak nyata, semoga cita-citanya untuk ke maslahatan bangsa ini tercapai,semoga semua aral yg melintang dapat dilalui dengan sebaik-baiknya. Amiiien.
Balas tanggapan
 
 
+3 #2 Arief 13-04-2010, 06:47
Salut kepada pak Susno, ternyata masih ada orang yang (insya Allah) jujur.
Balas tanggapan
 
 
+2 #3 majufirman 13-04-2010, 09:29
maju teru s pak ungkap kebeneran walaupun taruhanya nyawa...
Balas tanggapan
 
 
+2 #4 amex alona hsb 15-04-2010, 01:23
semoga aja bapak dibberikan lindungan oleh Allah SWT... aku bangga kepada bapak..... maju terus pak untuk membelakebenara n jangan pernah menyerah...
Balas tanggapan
 
 
+1 #5 percayaini ugi 15-04-2010, 01:58
percayalah kepada kebenaran bukan pembenaran.
pak susno...jangan takut... kami ada di depan, dibelakang, disamping kiri dan kanan , serta atas dan dan bawah...........mendukungmu.
Balas tanggapan
 
 
0 #6 Stand firmly to the truthharke mandolang 15-04-2010, 07:35
The geatest want of the world is the want of men.men who will not be bought or sold,men who in their inmost soul are true and honest,men who do not fear to call sin by its right name,men whose conscienceis as true to duty as the needle to the pole,men who will stand for the right though the heavens fall.
Balas tanggapan
 
 
+3 #7 dukung penuh Pak Susno Duadjijameelah Patricia 15-04-2010, 08:34
Salut buat Pak Susno Duadji dan Keluarga yg mendukung Bpk dalam membongkar Kasus MARKUS di Indonesia ini. Semoga semua usaha Bpk berhasil dengan memuaskan sehingga Indonesia dapat menata diri secara intern baru ekstern nya.Saya sbg salah seorang warga Indonesia berdoa semoga Bpk dan Keluarga di lindungi Allah SWI dan dalam keadaan sehat wal'afiat. Hidup Pak Susno Duadji....!!!!!!!!
Balas tanggapan
 
 
+2 #8 Dharmawangsa 15-04-2010, 11:52
Betul Jenderal,.....Hanya dengan pemberantansan korupsi yg di mulai dari Aparat Penegak Hukumlah, Republik tercinta kita ini bisa keluar dari Persoalan Kemiskinan, Kebodohan, dan Kehancuran,.....!!!
Balas tanggapan
 

Tulis komentar


Kode Keamanan
Refresh

Mobile