Dibaca: 3860 kali Ditulis oleh Izharry Agusjaya Moenzir Selasa, 04 Mei 2010 10:12
Pengharapan Susno terhadap Bambang Hendarso Danuri semakin hari semakin berlipat ganda. Pada diri Kapolri ini, Susno melihat ada perwujudan polisi reformsi, sesuatu yang merupakan mimpi Susno sejak lama. Menurut Susno, Bambang Hendarso mewakili citra kepolisian yang bersih, taat azas, tidak nakal, bertanggung jawab dan mempunyai visi luas seta misi yang jelas. Kalimat “Kita Polri harus berubah!” yang meluncur dari mulut Kapolri, terus menerut terngiang di liang pendengarannya, menyalakan kobaran di hati Susno.
“Saya ingin menempatkan Pak Bambang sebagai Kapolri ke empat yang paling saya kagumi,” Ujar Susno polos.
Diapun menumpahkan ke segalaannya untuk tugas. Seperti seorang manajer yang baru mulai tugas, atau bagai nahkoda di sebuh kapal yang sedang kelebihan beban, Susno menata rencana kerja yang matang. Dia yakin, kerja keras bisa merampungkan cita-citanya untuk membuat Polisi di mata masyarakat. “Pengabdian polisi harus total!” katanya. “Tidak perlu waktu lama dan proses berbelit-belit. Mulai kerja hari ini kerja nyata harus memberi hasil,”.
1. Menangkap Gembong teroris, membongkar dan menghancurkan jaringan teroris.
Upaya ini berhasil dengan baik. Berkat ketekunan dan pengabdian tak kenal lelah Densus 88/AT Bareskrim Polri, kasus bom Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton dapat diungkap. Para pelakunya dibekuk dalam tempo kurang dari satu bulan. Operasi penghancuran jaringan teroris menemukan titik puncak ketika Noordin M. Top berhasil dilumpuhkan. Teroris yang paling dicari itu teas diterpa peluru polisi. Tindak lanjutnya, polisi juga berhasil menangkap segerombolan teroris yang sudah menyusun rencan untuk meledakkna iring-iringan mobil presiden Republik Indonesia.
2. Membasmi premanisme. Tugas ini berhasil baik dengan keberhasil menggulung ribuan preman serta menyita berbagai jenis senjata api dan senjata tajam
3. Menuntaskan pelanggaran Hukum Pemilu Legislatif 2009 dengan aman. Tujuan tercapai, tuntas 100% dan aman. Tujuan tercapai, tuntas 100 peren dan aman
4. Menyelesaikan Pelanggaran Hukum Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009. Tujuan tercapai, tuntas 100 persen dan aman. Tujuan tercapai, tuntas 100 persen dan aman.
5. Menyelesaikan Kasus Bank Century dan Asset Recovery minimal 25 persen. Tujuan tercapai, bahkan asset recovery melampaui prestasi , bisa mencapai 200 persen. Hal ini belum pernah tejadi sepanjang sejarah pengungkapan kasus perbangkan dengan asset yang tergolong sangat besar
6. Menindak illegal Logging, Illegal Fishing, dan illegal Mining. Tujuan tercapai, meningkat 20 persen
7. Menindak Kasus Korupsi. Tujuan tercapai, meningkat 10%
8. Mombongkar, menangkap jaringan dan pelaku kejahatan narkoba international serta memberantas pabrik narkoba. Tujuan tercapai dan sangat sukses
9. Menyelesaikan kasus kejahatan konvensional. Tujuan tercapai, meningkat 10 persen
10. Menghilangkan keluhan masyarakat. Tujuan tercapai, keluhan masyarakat turun 20 persen
11. Menggalang transparansi penyidikan penggunaan IT untuk menghubungkan Bareskrim dengan seluruh Polda, Polwil, Poltabes, Polres, Polresta. Tujuan tercapai 90 persen.
12. Menggagalkan tuntutan Negara-negara Eropa. Tujuan tercapai. Anjangsana Susno ke Belanda tahun 1979 berhasil menggagalkan tuntutan Negara-negara Eropa kepada Pemerintah RI senilai Rp. 7.000.000. 000.000.. terkait dengan bangkrut dan jatuhnya Bank Indover
Menyusun program seperti itu memang sangat mudah, namun mewujudkan bisa pusing tujuh keliling. Belum tentu semua dapat di capai. Dari 12 butir rancangan kerja yang I susun Susno, pun tidak seleruhnya rampung sempurna. Sebab Kendala selalu ada, bukan Cuma halangan eksternal, tetapi juga dari kondisi internal.Padalah Susno tidak menafikan bahwa Polri adalah badan professional yang terlatih. Teruji, dan punya kemampuan tinggi. Jadi tidak ada masalah sebenarnya.
Namun itu semua harus disokong oleh dukungan financial keluarga yang baik. “Bagiamana petutas bisa menjalankan tugas sempurna, jika kebutuhan dasr mereka sebagai manusia belum terpenuhi?” sinaylir Susno. Menurut Susno, petugas yang masih harus berpikir tentang periuk nasi kosong, pasti tidak akan bisa menembak dengan tepat. Bintara yang belum membayar uang sekolah anaknya, pasti akan megap-megap berhadapan dengan para pelanggar hokum.
“Jadi, kebutuhan dasar itu mutlak!” seru Susno. Negara harus menyediakan anggaran tinggi bagi para anggota korps Kepolisian. “Jangan Cuma jendral-jendral saja yang kaya!” Sebab kesenjangan gaji bisa menimbulkan kecemburuan dan perpecahan. “Kalau mengikut keinginan saya, gaji polisi tiu harus lebih teinggi dari gaji tentara, sebaba polisi itu bekerja 24 jam, ‘round the clock. Tak pernah berhenti.” Susno melihat, tugas kerja polisi itu tidak terbatas hanya delapan jam. Bahkan ketika seoran gpolisi sudah pulang kerja dan berada di rumah pun, polisi tetap seoran gpolisi bagi wraga lingkungan. Setiap polisi harus selalu siap menghadapi berbagai kondisi.
Cuma Susno mengerti , anggaran Negara memang belum memadai untuk memenuhi kebutuhan itu. Makanya dia merasa tidak perlu melarang polisi mengerjakan hal-hal lain di luar jam kerja, asal pekerjaan itu halal, tidak mengganggu ugas, dapat dipertanggungjawabkan dan tidak berkenaan dengan keberadaan sebagai polisi. “Polisi itu kan manusia juga. Dia harus menutup kebutuhan ekonominya,” tegas Susno. “Harus hidup layak agar tidak korup saat bertugas.”
Menyadari hal itulah Susno selalu menjaga usaha keluarga yang dirintis sanak familinya. Keluarga Duadji memang sudah bergenarsi mengelola usaha pertanian mereka. Meski Cuma untung kecil dan bernilai seperak dua perak, tetapi usaha dagang itu jalan. Hasil bumi dari lahan di dusun di jual ke kampong-kampung lain, diboyong ke kota dan labanya digulung atau dinikamati bersama. Dan selaras dengan perjalan waktu, bisni kecil-kecilan itu semakin hari semakin tumbuh menjadi besar dengan daya jangkau pasar yang luas. “Kini kami bangga bisa menyebutna sebagai trading,” canda Susno. “Kren kan? Trading lho!”
Bersama dengan saudra-saudara sekampung, kini usaha keluarga itu bergerak di bidang perdagangan hasil bumi seperti kopi, karet dan cengkeh, juga hasil tambang seperti batubara, pasir dan galena. Menurut Susno, usaha kecil ini sah dan legal, surat-surat lengkap, segala bentuk pajak di bayar. “Pajak dunia bayar, pajak akhirat 2,5 persen pun bayar,” katanya. “Kadang-kadang lucu juga, karena sekali-kali pungli (pungutan liar) pun kita bayar. Saya sih bisa bereskan masalah itu, tapi kalau say amuncul, berarti saya sudah mencampurkan bisni dengan kedinasan saya.
Bisnis trading memang sepenuhnya di jalankan oleh keluarga dan teman-teman sekampung yang menyemplungkan diri di bidang bisni. Yang punya jabatan tidak boleh menjadi pelaksana. “Saya tidak boleh, abang sepupu saya yang bekerja di kantor pajak juga tidak boleh ikut. Kami hanya ikut rapat, memantau dari jauh, menjaga agar tetap di jalur resmi nan halal dan memberikan sumbangan pikiran,” ujar Susno.
“Hidup sebagai polisi itu susah!” tandas Susno. “Jangankan bintara, gaji jenderal bintang tiga seperti saya saja tidak cukup. “Susno menyontohkan gajinya yang Cuma 11,5 juta, termasuk tunjangan. Anak-anak harus sekolah, makanan harus baik, pakaian harus rapi, dan lingkup pergaulan menuntut agar tampil bergengsi.
“Padahal saya ini sudah bangkrut sebenar!” (ini adalah ucapannya ketika dihari kemudian Susno dicopot dari jabatan Kabareskrim tunuk diposisikan sebagai Perwira Tinggi di Mabes Polri. Gajinya dipotong 60 persen, sehingga Cuma menjadi 4,6 juta. Tunjangan dihilangkan dan segala fasilitas ditarik).
Jadi menurut Susno, hal-hal seperti inilah yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Harus ada perubahan dan peningkatan. “Manalah mungkin menuntut dedikasi tinggi dan memelihara kejujuran polisi-polisi yang dapurnya tak berasap! Mustahil itu!”
Janganlah terkejut jika masyarakat tidak percaya pada kemewahan polisi. Sudah rahasia umum, kekayaan anggota Kepolisian selalu dibisik-bisikan di belakang punggung, dibicarakan dengan sembunyi-sembunyi. Jika seorang polisi terlihat berada, public pasti menilai ada yang tidak beres. Susah memperbaiki tanggapan masyarakat. Susno baru bisa menurunkan tingkat ketidakpuasan ini sekitar 20 persen.
Makanya, ketika Susno terbelit tuduhan dan dugaan menerima suap 10 milyar, masyarakat langsung menghujatnya habis-habisan, bahkan hal-hal sepele seperti perumpaan Cecak dan Buaya pun menjadi isu nasional. Dahsyat!
Sumber : dikutip dari Buku “Bukan Testimoni Susno”, penulis: Izharry Agusjaya Moenzir
| selanjutnya > |
|---|




Komentar
Tapi tak perlu gusar wahai teman-teman dari Bumi Sriwijaya..... istiqamahlah dengan jiwamu pengabdian Anda, jangan terkontaminasi, jangan ngeper dengan gertakan-gertakan musuh-musuh Allah SWT.Sudah sekian banyak putera-putera handal dari Sumsel yang dijebloskan ke dalam jeruji besi dengan dakwaan yang tidak logis. Tegarlah...Pak Susno.....! sejarah akan mencatat Anda dalam barisan Hugeng.
Tapi banyak lho yg sudah sejahtera en kaya2 .... tapi on atau off saya gak tahu pak.
PS: on=halal - off=non halam