Kamis, 23 Februari 2012
            Mobile

Terjemahkan

Browse this website in:

Testimoni Susno

Dapur Berasap, tugas pun selesai

Pengharapan Susno terhadap Bambang Hendarso Danuri semakin hari semakin berlipat ganda. Pada diri Kapolri ini, Susno melihat ada perwujudan polisi reformsi, sesuatu yang merupakan mimpi Susno sejak lama. Menurut Susno, Bambang Hendarso mewakili  citra kepolisian yang bersih, taat azas, tidak nakal, bertanggung jawab dan mempunyai visi luas seta misi yang jelas. Kalimat “Kita Polri harus berubah!” yang meluncur  dari mulut Kapolri, terus menerut  terngiang di liang pendengarannya, menyalakan kobaran di hati Susno.

 

Pengakuan Susno

Testimoni Susno

Dr. Adnan Buyung Nasution,"Bagi saya, Susno Duadji memiliki integritas yang sangat baik, cerdas, profesional dan juga memiliki keberanian untuk bertindak." BOLEH jadi, ini merupakan peristiwa langka dan layak tercatat dalam sejarah di Tatar Sunda, seorang tokoh kepolisian berdarah Palembang Sumatra Selatan bersikeras mencintai Jabar.

"Saya lahir di Pagaralam Palembang Sumatra Selatan. Pernah diamanahkan-Nya di Jawa Timur. Tapi, saya jatuh cinta dengan Jabar dan sulit melupakannya. KTP saya adalah warga Kota Bandung, karena dibuatkan KTP seumur hidup oleh Walikota Dada Rosada. Dalam pemilu Pilkada dan Caleg lalu, istri dan keluarga saya, mencoblos di TPS Jabar, bukannya di
Jakarta. Terus terang, hingga wafat kelak, saya tidak akan mempermalukan warga Jabar," kata Susno Duadji kepada Pemimpin Umum "PR", H. Syafik Umar dan tokoh Antikorupsi-Antikemaksiatan, H. Nanang Iskandar Ma'soem, di Bandung, Jumat (11/12) malam.

 

Penyidik Sudah Mati

Susno mulai tidak mengerti  alam pikiran para koleganya dan menebak-nebak pola pikir mereka. Tegas ke luar, namun berputar-putar ke dalam. Ada yang bilang akan mundur jika tidak sesuai dengan keadilan, tapi kenyataannya tidak mundur-mundur juga.

Menurut prinsip Susno, aparat penegak  hukum harus didorong untuk menegakkan keadilan. Mind set di kepolisian dan kejaksaan harus diubah.  Seharusnya atas seseorang  yang dijadikan  tersangka, diberlakukan azas praduga tak bersalah. Polisi boleh saja terus-menerus mencari bukti-bukti. “Penyidik memerlukan barang bukti, namun tidak  harus dipaksa terbukti,” ujarnya. Tapi kalau memang  tersangka tak bersalah, harus dibebaskan. Susno mendeteksi, yang ada dipikiran polisi saat ini  adalah bahwa bukti-bukti harus terus dicari. Bila perlu main gebuk.

 

Putting Beliung Mabes Polri

Arah angin sedang tidak menentu, berganti-ganti asal dan tujuan. Kadang ke Barat, kadang ke Timur, lantas bermbus pula ke segala  ufuk. Tidak ada kepastian. Namun putting beliung itu  terus berputar di Mabes Polri. Telegram rahasia bernomor polisi 618/XI/2009 tanggal 24 November 2009 sudah dibuat.

Isinya: Susno dicopot dari Jabatan sebagai kabareskrim untuk selanjutnya dimutasikan sebagai perwira tinggi Polri non-job di Mabes Polri. Menurut Kapolri, pencopotan resmi itu merupakan  bentuk tanggung jawab Kapolri terhadap arahan presiden.

Di hari rabu, 25  Nopember 2009 itu, Susno baru saja sampai di rumah. Jam dinding menunjukkan angka 20:15 WIB. Bayang-bayang letih  menaungi wajahnya. Paras pria usia 55 tahun itu ramai diukir guratan-guratan senja.  Hari-hari belakangan  ini, hidupnya berjalan keras. Lubang-lubang mengangkang menunggunya terjengkang, jutaan tombak mengarah menantinya berdarah. Seusai mandi, shalat Isya dan makan malam, Susno duduk di depan televisi , Dia ingin meluruskan  pinggang. Namun begitu melihat siaran televisi, Susno menjublak! Hatinya teriris silet yang tajam..

 

Jangan Pernah Setori Saya

Kumpulan ilmu, jabatan, penugasan dan gejolak hidup yang tidak mudah kemudian mengantar  Susno menjadi Kapolda Jawa Barat. Terhitung Sejak 23 Januari 2008, Susno resmi menggantikan  Irjen Pol Soenarko Danu Ardanto, dengan bersandar  kepada Keputusan Kapolri Jenderal Sutanto dengan No. Pol: Kep/11/I/2008.

“Saya mempunyai trik khusus untuk pengamanan  Jawa Barat, tapi jangan Tanya sekarang,” ujar Susno seusai acara pisah-sambut dari Mapolda Jabar. “Beri saya waktu beberapa hari, baru nanti saya akan bicara.

Memang, Cuma lima hari setelah menjabat, Susno langsung menggembrak. Dia kumpulkan seluruh perwira  Satuan Lalulintas, mulai dari tingkat Polres hingga tingkat Polda. Meski bicara dengan gaya santai dan mengambil waktu 10 menit, namun kalimat-kalimat Susno menyentak seluruh jajaran.

   

It's a Long Long Winding Road...

Pada masa itu, persisnya di tahun 1974, Akabri menyatu­kan seluruh calon taruna tahun pertama dari berbagai ang­katan dan Kepolisian di Magelang. Di kota sejuk itu, mereka akan menerima pendidikan awal. Nanti di tahun ke dua baru akan dibagi dan digembleng di jurusan masing-masing.

 

Polisi Suka Minta Duit

Susno Duadji terlahir sebagai anak ke dua dari delapan  saudara. Duadji ayahnya, asli warga pagar Alam, lahir, besar dan beranak pinak di Sumatera  Selatan. Mereka adalah  keluarga yang bersahaja sejak leluhur, tanpa seorangpun pernah memiliki kedudukan tingi. Inilah potret manusia-manusia  sederhana dari keluarga kelas bawah, sosok-sosok yang tidak pernah  dan tidak berani bermimpi tentang  kemulukan . Mereka tidak  hanya memicing mata agar tidak  terkesima pada kemewahan, tetapi juga melarang diri terhadap kelayakan.

   

Susno Duadji Bedah Buku "Bukan Testimoni Susno"

Mantan Kabareskrim Komjen Pol. Susno Duadji menghadiri bedah buku berjudul Bukan Testimoni Susno di Ruang Hanoman, Gedung Jogja Expo Center (JEC), Jl. Janti, Bantul Yogyakarta, Senin (15/3).

Sang penulis buku "Bukan Testimoni Susno", Izharry Agusjaya Moenzir, menyatakan bahwa buku yang ditulisnya tersebut sebagai bentuk penghapusan dosa dirinya karena selama ini telah berburuk sangka terhadap Susno Duadji.

"Saya dulu sebenarnya membenci Susno Duadji bahkan selalu berburuk sangka terhadapnya karena sejumlah kasus yang tersangkut dengan dirinya," ungkapnya.

Namun segalanya kemudian berubah ketika dirinya bertemu empat mata dengan Susno di rumahnya. Terlebih ketika mengetahui kesaksian Susno dalam kasus Antasasi Azhar yang semakin membalikkan pandangannya terhadap jendral bintang tiga tersebut.

"Setelah mulai mengenalnya dan kemudian mendengarkan cerita-cerita Susno, kemudian saya baru mengetahui bahwa ternyata saya tidak tahu apa yang saya katakan dan saya akui bersalah karena ikut menebar kebencian terhadap Susno," tegasnya.

Untuk itu, Izharry mengungkapkan buku "Bukan Testimoni Susno" yang ditulisnya adalah sebuah buku sebagai penyesalan untuk Susno serta karena telah salah menilai dirinya.

 

Susno Bicara 7 Isu yang Dituduhkan Padanya

Jakarta - Bab II dari testimoni yang disebut Susno Duadji sebagai "kerangka buku yang belum disetujuinya" berjudul Issue/Rumor yang Dituduhkan Kepada Susno. Berikut kutipan bab di halaman 2-5 tersebut:

1. ISU CICAK BUAYA


Berawal dari wawancara saya dengan Wartawan terkait dengan pertanyaan bagaimana bisa tahu bahwa HP-nya disadap dan seberapa jauh perbedaan kemampuan alat sadap Polri dengan KPK. Menjawab pertanyaan ini saya mengambil perumpamaan hewan yang kebetulan di akurium ada seekor Cicak maka hewan sejenis yang lebih besar dari Cicak adalah Tokek atau Buaya dengan Cicak tetapi perbandingan alat sadap Polri dengan KPK seperti Tokek/Buaya dengan Cicak tetapi perbandingan kewenangan dan kekuasaan justru berbanding terbalik, Cicak adalah Polri dan Tokek/Buaya adalah KPK, karena KPK

diberi kewenangan dan kekuasaan lebih besar daripada Polri.

   

JAJAK PENDAPAT

Kasus Yang Menimpa Susno Duadji Penuh Rekayasa, Bagaimana Pendapat Anda?

SD TWITTER

Follow us on Twitter

SINDIKASI RSS

PENGUNJUNG

Kami ada 106 tamu online
Mobile