Ditulis oleh Mukti Ali Minggu, 29 Agustus 2010 19:16
Bangsa kita ini sudah begitu lama melempem, jadi bisanya cuma mengajak untuk intropeksi diri, belajar dan bekerja lebih keras, walau harga diri bangsa di injak-injak tetep aja di himbau agar sabar. Apakah mereka tidak melihat begitu banyak pekerja yang telah belajar dan bekerja keras ?
Seandainya sampai saat ini bangsa kita masih berjalan di tempat itu bukan karena tidak ada yang bekerja keras tapi pemerintahlah yang belum maksimal bekerja, apakah kita akan menutup mata melihat anak- anak bangsa dari sabang sampai marauke yang gigih bekerja ?
Karenanya tugas kita saat ini adalah memilih pemimpin yang benar, berani , dan tegas, jadikanlah kesalahan masa silam sebagai pelajaran yang berharga. Pemimpin tidak perlu ganteng serta pandai bernyanyi.
Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang tahu keinginan rakyatnya, mampu memberikan solusi bagi permasalahan rakyatnya serta sanggup menenangkan rakyatnya yang di landa kecemasan. Bukan pemimpin yang kerjanya curhat . he he he
Saya akan pulang dari rantau seandainya pemimpin yang peragu dan ” sabar ” itu mengumumkan perang terhadap malaysia, saya akan mendaftar menjadi sukarelawan untuk memberikan pelajaran kepada malaysia.
Menjadi pertanyaan sekarang, berani enggak pemimpin yang ganteng itu mengumumkan perang ? he he he he boro-boro mengumumkan perang, eh malah kirim surat agar permasalahan di selesaikan lewat jalan damai.
Sampai kapan rakyat harus bersabar menerima pelecehan demi pelecehan ? saya jadi khawatir nih, seandainya pemerintah tetep dengan politik sabarnya, akan banyak posko-posko ganyang malaysia yang akan di dirikan.
Justru dengan diamnya pemerintah akan membuat mereka yang sudah muak dengan malaysia bergerak sendiri-sendiri, padahal jika pemerintah peka, sudah tarik semua TKI dan perwakilan kita di kuala lumpur,setelah itu umumkan perang melawan malaysia.
Jika SBY mengumumkan perang nya malam hari maka esok pagi saya sudah di bandara untuk pulang ke tanah air. Sekali lagi ini bukan persoalan sepele harga diri sebuah bangsa di pertaruhkan.
Dubai, di saat mental bangsa sudah menjadi tempe.
Sumber: Kompasiana
Kamis, 26 Agustus 2010 23:48
Assalamualaikum wr wb. Bapak Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono Yang Terhormat. Bulan Ramadhan 65 tahun lalu, saat Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan tepat hari Jumat.
Ya... 65 tahun Indonesia telah merdeka, dan selama itu, bapak telah beberapa kali menyaksikan dan mengetahui bahwa Indonesia pernah dipimpin oleh beberapa penguasa, yang adil maupun yang dzalim. Dan sejak dulu kala, rakyat senantiasa memperhatikan tindak tanduk para penguasa itu, dan saat inipun rakyat akan dan selalu melakukan hal yang sama terhadap bapak, persis seperti saat itu, ketika bapak sedang mengamati dan memperhatikan tindakan-tindakan para penguasa sebelum bapak. Dan, seperti yang bapak ketahui, pada akhirnya nanti, rakyat pasti akan menilai kinerja bapak seperti yang pernah bapak lakukan saat menilai para penguasa terdahulu.





kalau denger angie apa dia gk takut sama mendiang swaminya ya ....dan juga jd wakil rakyat jug..."
malu mendengar kesaksian orang yang katanya pinter,cantik dan terlebih wakil rakyat...kacau ka..."