Dibaca: 1766 kali Ditulis oleh Kiriman Sahabat Jum'at, 29 Oktober 2010 09:10
Jangan bangga dengan TEMPAT TIDUR yang empuk, karena tempat tidur kita yang terakhir adalah TANAH.
Jangan bangga dengan RUMAH MEWAH, karena rumah terakhir kita adalah KUBURAN.
Jangan bangga dengan TITEL/GELAR, karena titel kita yang terakhir adalah ALMARHUM/AH.
Jangan bangga dengan WAJAH yang ganteng/cantik, karena wajah kita yang terakhir adalah TENGKORAK.
Jangan bangga dengan MOBIL mewah kita, karena mobil terakhir kita adalah AMBULANCE.
Jangan bangga dengan HANDPHONE mahal/canggih, karena alat komunikasi yang bisa menyelamatkan kita adalah DO'A.
DOA adalah nafas yang menghidupkan. TUHAN-lah yang MAHA HEBAT bukan kita.
Sebarkan ke semua orang untuk mengingatkan sesama, betapa tidak pantasnya manusia jikalau menjadi SOMBONG.
| < sebelumnya | selanjutnya > |
|---|




Hanya orang-orang yang berjiwa jeleklah yang sering mengeluarkan kata-kata jelek"
malu mendengar kesaksian orang yang katanya pinter,cantik dan terlebih wakil rakyat...kacau ka..."
Komentar
Sabtu, 26/11/2011, 13.33
Yth keluarga Susno Duaji, saya teringat kata-kata Ali Moertopo (1980-an awal) beberapa pekan sebelum ia meninggal, "Kita boleh kalah dalam pertempuran, tetapi harus menang dalam perang". Saat membaca kata-kata itu, saya belum nyambung, tetapi dalam perjalanan waktu, saya dapat nyambung dengan apa yang dimaksud Ali Moertopo. Lalu, saya kembali merenungi sejarah hidup Nabi. Saya kaget saat menemukan fakta bahwa, Nabi hanya satu kali menang dalam pertempuran, yaitu di padang Badar. Dalam pertempuran di padang Uhud, Nabi kalah telak, bahkan Hamzah tewas dan jantungnya dimakan mentah-mentah oleh Hindun (istri Abu Sofyan), yang kanibalis itu. Di padang Uhud itu pula, geraham Nabi patah terkena senjata lawan. Dalam pertempuran-pertempuran lain, Nabi kalah atau "draw". Tetapi, secara keseluruhan sejarah kebangkitannya, Nabi menang dalam perang. Berkat menang dalam perang itu, maka Islam mampu tumbuh dan bergerak ke utara. Umar mencaplok Mesir, dan Bin Ziad mencaplok Spanyol. Dan akhirnya, Islam mampu membangun peradaban dunia, sejak keruntuhan Persia dan Romawi, sampai sekitar abad 17 M. Semoga surat ini mampu mengilhami keluarga Susno Duaji yang sedang dirundung-malang. Dalam konteks apa "pertempuran" dan "perang" itu, dalam riwayat hidup seorang Susno Duaji dan keluarga? Jawablah pertanyaan itu, secara serius dan jujur, dalam renungan intensif, dari saat ke saat. Dalam konteks itu, kata-kata Gandhi relevan, yaitu, "Kita hendaknya mampu menemukan nilai-nilai universal, dalam peristiwa-biasa yang kita alami, dalam keseharian hidup kita”. Nuwun, for the sake of my responsibility, I have written the truth so hear me,
Revolution
V
Menang dalam perang