Dibaca: 1006 kali Ditulis oleh Ade Mayasanto Minggu, 12 Desember 2010 10:37
JAKARTA - Mantan Ketua Tim Investigasi dugaan suap di tubuh Mahkamah Konstitusi (MK) Refly Harun menyikapi serius serangan balik yang dilayangkan MK. Refly berencana bertemu dengan tim investigasi dugaan suap untuk membahas perkembangan terkini permasalahan dugaan suap di tubuh MK.
"Tim belum bertemu lagi. Tapi rencananya bertemu Senin untuk menyikapi perkembangan terakhir," ujar Refly Harun kepada Tribunnews.com di Jakarta, Sabtu (11/12/2010) malam.
Refly belum berani menyebut siapa saja anggota tim investigasi yang bakal menjalani pertemuan tersebut. Pasalnya, anggota tim independen yang berdinas selama satu bulan ini terbilang orang sibuk.
"Belum confirm semua. Maklum ini orang sibuk semua," ucapnya.
Untuk diketahui, Ketua MK Mahfud MD dan Akil Mokhtar melaporkan Refly bersama Bupati Simalungun, dan Maheswara Prabandono ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Refly diduga mengetahui adanya percobaan penyuapan ke hakim konstitusi. Atas laporan ini, mantan Staf Ahli MK ini pun menanggapi dengan santai.
"Ini biasa serangan balik," katanya. "Saya kira mungkin satu dua hakim yang ingin membawa kolega, untuk kemudian menyerang pihak-pihak yang melakukan investigasi."
Dia menambahkan, laporan tim independen kepada Ketua MK Mafhud MD dilakukan secara tertutup. Namun, anehnya ada hakim MK yang justru beraksi keras setelah dugaan suap ke arah hakim MK tersandung saksi kunci. "Saya juga bertanya. Ada apa? Kenapa terlalu reaktif," jelasnya.
Bukan hanya itu, Refly juga menumpahkan kekecewaan terhadap Mahfud yang membeberkan secara terang benderang saksi kunci dugaan suap yang mengarah ke hakim MK. Padahal, sebelum gelar keterangan pers dilakoni di lantai II gedung MK, Mahfud bersepakat dengan Tim Investigasi dugaan suap di tubuh MK untuk tidak mengungkap nama-nama saksi kunci.
"Saya pribadi itu kecewa dengan Prof Mahfud yang tidak menepati gentlement agreement. Sebelum kita konferensi pers, kita ketemu dahulu. Intinya yang kita sampaikan itu seperti yang ada di press release. Dalam pers release kita sama sekali tidak menyebut nama, kejadian dan bahkan inisial," terangnya.
Refly menyebut, mekanisme pemberian keterangan pers atas hasil investigasi dugaan suap di tubuh MK juga disepakati bersama. "Kita menyepakati Prof Mahfud membuka, dan menyerahkan tim untuk memaparkan, lalu tanya jawab, dan kemudian ditutup," paparnya.
Namun kesepahaman itu berantakan. Mahfud justru secara gamblang menyebut nama, berikut kronologi upaya suap ke arah hakim konstitusi. Bupati Simalungun, sopir pembawa bernama Purwanto yang membawa dana suap senilai Rp 1 miliar, dan panitera pengganti MK, Makhfud, penerima uang senilai Rp 58 juta dan sertifikat rumah sebesar 2,5 miliar hingga Rp 3 miliar, disebut Mahfud dengan tegas. "Itu semua di luar gentlement agreement sebelum keterangan pers," katanya.
Ketika disinggung apakah dirinya merasa dijebak, Refly lagi-lagi menjawab dengan santai. "Tanyakan saja, apakah MK menjebak. Kalau saya yang penting ikhlas dan niat baik untuk memperbaiki MK," imbuhnya.
Menyangkut kondisi keluarga selepas aduan ke KPK, Refly memilih tidak menanggapi pertanyaan seputar keluarga. "Saya tidak mau komentar soal keluarga," sergahnya.
Sumber: Tribunnews.com
| < sebelumnya | selanjutnya > |
|---|




Hanya orang-orang yang berjiwa jeleklah yang sering mengeluarkan kata-kata jelek"
malu mendengar kesaksian orang yang katanya pinter,cantik dan terlebih wakil rakyat...kacau ka..."
Komentar