Dibaca: 1951 kali Ditulis oleh Abdul Rais Abin Minggu, 05 September 2010 11:40
Pidato Presiden SBY mengenai konflik yang akhir-akhir ini terjadi antara Indonesia dengan Malaysia, telah menuai berbagai tanggapan dari banyak kalangan di Indonesia. Hal ini terlihat dari ramainya berita pro kontra dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik.
Sebagian besar tanggapan tersebut menunjukkan kekecewaan, karena pidato presiden SBY dianggap terlalu “lunak” khusunya pada kasus tertangkapnya 3 pegawai kelautan dan perikanan oleh polisi Diraja Malaysia di wilayah perairan Indoensia.
Pidato tersebut dinilai terlalu lemah dan banyak menunjukkan pertimbangan-pertimbangan pragmatis ketimbang kepentingan nasional dalam kaitannya dengan Harkat dan Martabat sebagai sebuah bangsa besar yang Merdeka.
Dalam pidato itu juga dinilai begitu besar ketergantungan Indonesia terhadap Malaysia terutama dalam bidang ekonomi, seperti sektor investasi Malaysia di Indonesia dan banyaknya pekerja Indonesia di Malaysia yang menghasilkan devisa buat negara.
Tak sedikit pula para pengamat politik yang menilai bahwa pidato tersebut terlalu melebar, bias, dan tidak focus pada permasalahan yang sedang dihadapi sekarang. Misalnya pidato presiden seharusnya menyampaikan atau menjelaskan kronologis kejadian tertangkapnya 3 pegawai Kementrian perikanan dan kelautan Indonesia oleh polisi Diraja Malaysia di wilayah Indonesia dan bagaimana seharusnya Malaysia melakukan investigasi komprehensif atas kejadian tersebut dan secara kenegaraan meminta maaf atau memberikan penjelasan yang “clear” atas kejadian tersebut.
Secara tersirat dalam pidato tersebut seolah-olah kita tidak perlu memberikan reaksi keras terhadap masalah-masalah yang ada karena akan memberikan dampak yang kurang bagus baik dalam kaitannya dengan bidang ekonomi maupun hubungan sebagai negara tetangga dan negara serumpun.
Pidato SBY yang terkesan lunak ini bukanlah pertama kalinya, hal ini terlihat pula pada pidatonya saat menanggapi kasus Bank Century dan kasus kriminalisasi pimpinanan KPK Chandra Hamzah dan Bibit Slamet Rianto.
Saat itu publik mengharapkan ada tanggapan atau pernyataan yang lebih menukik, riil dan mengandung penyelesaian yang komprehensih atas carut-marutnya sistim peradilan kita. Misalnya dalam kasus Century presiden diharapkan dapat mengambil tanggungjawab atau mengambila langkah yang jelas dan komprehensif atas penyelesaian masalah Century dengan statemen yang lebih netral dan mengutamakan kepentingan pemberantasan korupsi.
Begitu juga dengan kasus Bibit-Candra publik benar-benar menunggu pernyataan presiden yang menyatakan bahwa tindakan polisi dan jaksa yang terburu-buru melakukan penahan terhadap Bibit-Chandra adalah tindakan yang kurang tepat, sebagaimana temuan investigasi tim 8. Tetapi dalam kenyataannya ketika presiden berpidato harapan itu tidak sepenuhnya didapat oleh publik kerena pidato presiden masih sangat normatif dan landai-landai saja, dan lebih fokus pada penjelasan masalah proses hukum yang tidak boleh dicampuri oleh pihak manapun, tentu termasuk presiden.
Disisi lain menarik untuk kita cermati, bagaimana seorang presiden seperti SBY mempunyai pola dalam memberikan statemen yang normatif dan landai atas kasus-kasus diatas, akan tetapi disisi lain presiden SBY cukup reaktif terhadap hal-hal yang persifat personal, seperti pidato ketika intelejen mencium ada rencana teroris untuk melakukan pembunuhan terhadap dirinya. Kita juga tahu bagaimana begitu reaktifnya SBY menanggapi pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh dari lawan politiknya seperti Megawati, Amin Rais, Yusuf Kalla dan lainnya-laiinya. Sampai-sampai media televisi menampilan perbandingan pidato mereka dalam posisi saling serang.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah ini merupakan bagian dari watak atau tipikal dari SBY atau merupakan sebuah strategi politik.
Menurut hemat penulis pola komunikasi yang dikembangkan SBY ini adalah sebuah strategi komunikasi politik yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari politik pencitraan. Dua pencitraan penting sekaligus ingin diraih oleh SBY, yaitu pencitraan Nasional dan Internasional.
Pencitraan Nasional
Komunikasi politik pencitraan sebagaimana telah dikemukakan oleh ahli-ahli komunikasi politik nasional telah membawa SBY meraih kemenangan besar pada pemilu presiden 2009. Saat kampanye presiden 2009 SBY jarang terpancing dalam perang retorika politik yang ‘menggebu-gebu’ seperti ditunjukkan calon-calon lainnya. Hai ini menunjukkan bagaimana SBY tetap menahan diri agar pencitraan dirinya yang lembut bijaksana dan tidak reaktif tetap terjaga.
Strategi ini bukanlah tampa alasan, sebab mayoritas penduduk Indonesia terutama kelas menengah kebawah sebagai bagian mayoritas menginginkan pemimpin tampil tenang, dan elegan.
Mereka seakan trauma pada para pemimpin yang tampil berapi-api beretorika dan menyampaikan harapan-harapan dan janji-janji tapi dalam kenyataannya, setelah dia berkuasa hal itu tidak terbukti.
Ini lazim terjadi dalam masa kampanye eksekutif dan legislatih baik pada pemerintan pusat maupun di arena pilkada di daerah. Bahkan yang lebih parah pemimpin yang memberikan pengharapan pada rakyat ketika masa kampanye tersebut berubah menjadi pemimpin yang korup dan rakus ketika menjabat. Inilah salah satu kecerdasan SBY dalam membaca pikiran mayoritas rakyat kita.
Lalu bagaimana dengan kritikan-kritikan tajam dari berbagai analis dan pengamat politik, tentang kelambanan dan ketidaktegasan SBY dalam berbagai statemen dan pidatonya yang juga ‘dibombastikan’ oleh media?.
Ini tetap menjadi perhitungan, tetapi belum merupakan suatu yang perlu dikhawatirkan. Karena pandangan kritis itu masih datang dari kalangan menengah atas yang minoritas. Ditambah lagi kebiasaan kita dan juga media yang “angat-angat tahi ayam” alias umur isu di Indonesia hanya 1 hari paling lama 1 minggu setelah itu segera dilupakan dan muncul lagi isu baru.
Sehingga SBY cukup menjanjikan untuk menyampaikan tanggapan atas isu itu sambil mengulur waktu dan akhinya apapun statemen SBY bukan sesuatu yang menarik lagi untuk terus didebatkan. Ibarat prinsip berita, isu itu sudah basi. Untuk negara sebesar indonesia dengan komplektisitas kehidupan sosial politik yang luas, isu baru pasti akan segera datang silih berganti. Bahkan orang atau kekuasaan tertentu sangat mudah menciptakan isu baru untuk mengecoh isu aktual yang tidak diinginkan.
Dengan demikian SBY dilihat sebagai pemimpin yang low profile yang tidak hanya sekedar mengumbar janji-janji palsu. Masih jelas teringat dalam benak kita, saat SBY dalam acara debat calon presiden 2009 bersama calon-calon presiden yang lain, dimana calon-calon yang lain berani memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai lebih dari 8 persen mulai tahun 2010. Tetapi SBY hanya menjanjikan pertumbuhan pada angka 6-7%. Hal ini dilakukan SBY karena tidak ingin target yang terlalu tinggi yang kemungkinan gagal dicapai akan berubah menjadi janji yang dianggap palsu. Karena SBY tahu apa yang disampaikannya akan benar-benar dipegang oleh masyarakat luas.
Pencitraan Internasional
Majalah Times telah memasukkan SBY sebagai salah seorang 100 tokoh berpengaruh di dunia. Posisi ini didasarkan pada pengaruh SBY yang besar, baik dalam dan luar negeri. Dalam negeri SBY telah menjadi salah satu tokoh nasional yang masuk kategoring “the rising star” dalam dunia politik. Mendirikan partai politik, sekaligus mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2004. Partai demokrat yang didirikannnya mendapatkan kemenangan besar dan SBY sendiri terpilih menjadi presiden RI. bahkan di pemilu 2009 partai demokrat langsung menjadi pemenang pemilu dan SBY kembali sebagai presiden dengan suara yang meyakinkan.
Dalam kancah internasional SBY dikenal seorang jenderal yang demokratis dan moderat, menjadi salah seorang kepala negara yang yang diperhitungkan di Asia bahkan internasional. SBY menjadi salah satu pemimpin yag mengedepankan perdamaian dan penyelesaian diplomasi dalam konflik internasional dan menganggap konflik terbuka dan peperangan hanya akan membawa kerugian yang besar bagi masyarakat. Pengalaman jam terbang yang tinggi dalam pasukan perdamaian dunia dan mendapatkan pendidikan kemiliteran dari Amerika dan Eropa menambah keyakinan tim Majalah Times memasukkan SBY sebagai tokoh berpengaruh dan tokoh masa depan.
Pengakuan internasional ini tentu merupakan salah satu modal besar dan keberhasilan politik pencitraan SBY di dunia internasional. ini tentu dibangun dengan susah payah dan membutuhkan waktu yang panjang. Akan sayang kalau lenyap begitu saja. Bahkan SBY menjadi salah satu tokoh yang menjadi kandidat kuat calon Sekretaris Jenderal PBB setelah SBY merampungkan tugasnya sebagai presiden RI ditahun 2014 nanti. Bahkan sinyal ini diyakini sudah didukung oleh Amerika dan Eropa yang merupakan negara pemegang kunci organisasi PBB.
Maka bisa dimaklumi kalau dalam isu konflik dengan Malaysia ini, SBY menghindari statemen yang keras dan reaktif apalagi dengan menyatakan perang sebagaimana yang diinginkan oleh banyak pengamat. Karena kalau itu dilakukan oleh SBY ibarat pepatah menyatakan ” nila setitik merusak susu sebelenga”. Satu kali saja SBY bersikap reaktif dan provokatif dalam konflik antar negara maka citranya sebagai salah seorang pemimpin promotor perdamaian dunia akan lenyap.
Nah, justru isi pidato SBY dalam menanggapi isu konflik Indonesia dengan Malaysia yang lunak dan mengedepankan diplomasi ini telah menambah nilai plus SBY sebagai tokoh yang cinta damai tersebut. Media-media di Asean bahkan dunia telah memuji sikap SBY tersebut.
Win-Win Solution
Yang lebih penting dari semua itu sebenarnya adalah bagaimana SBY tetap bisa menerapkan kebijakan win-win solution sebagaimana yang telah dilakukannya selama ini. Dalam isu dengan Malaysia ini, publik yang mengkritiknya diharapkan merasa puas atas sikap pemerintah Indonesia kepada Malaysia dan citra internasionalnya tetap terjaga.
Karena citra internasional itu lebih banyak mengarah ke performance SBY sebagai seorang individu dan pemimpin yang cinta damai maka SBY dapat menggunakan pihak-pihak lain untuk melakukan reaksi keras pada Malaysia. Misalnya reaksi itu cukup dilakukan oleh para menteri atau tokoh terdekatnya.
Dengan begitu kalau ada ketidaksimpatinan internasional atas reaksi itu tidak langsung menunjuk pada dirinya.
Dengan cara ini pula memberikan waktu kepada SBY untuk menimbang-nimbang situasi yang sedang terjadi sehingga dapat menentukan mataeri pidato atau tanggapan untuk isu tersebut. Yang akhirnya pidato itu dapat bersifat soft ending atau happy ending tanpa mengurangi makna dan kesan mengalah. Semoga di masa yang akan datang ini semua dapat terwujud.
Penulis adalah Direktur C-Prodies Forum tinggal di Kota Batu
Sumber: Kompasiana
| < sebelumnya | selanjutnya > |
|---|




Hanya orang-orang yang berjiwa jeleklah yang sering mengeluarkan kata-kata jelek"
malu mendengar kesaksian orang yang katanya pinter,cantik dan terlebih wakil rakyat...kacau ka..."
Komentar