Senin, 21 Mei 2012
            Mobile

Terjemahkan

Browse this website in:

Beda Antara SBY dan Raja Kertanegara

Artikel - Artikel

Bookmark and Share

Dengan wajah penuh amarah Raja Kertanegara berdiri dari singgasananya, ia telah membaca “nawala” atau surat dari Kaisar Mongol yaitu Kubilai Khan yang berisi ultimatum pada kerajaan Singosari agar tunduk dan menyerah pada kekaisaran Mongol. Dilemparkan surat ultimatum itu ke wajah utusan kaisar Mongol sambil dengan suara yang tegas dan keras dia berkata: ” Singosari tidak akan pernah mau tunduk dan takut pada kerajaan manapun bahkan pada penguasa dunia sekalipun !”, lalu diperintahkan para algojonya menangkap para utusan Mongol tersebut kemudian diperintahkan pula untuk memotong telinga-telinga mereka sebagai pesan kepada Kaisar Mongol bahwa Singosari tidak pernah takut dan menyerah begitu saja terhadap segala ancaman yang menyangkut harga diri dan kedaulatan kerajaan Singosari.

Sepenggal kisah diatas adalah kisah tentang keberanian Raja Kertanegara yaitu raja kerajaan Singosari terakhir yang memerintah sekitar tahun 1194 M s/d 1292 M dan bergelar Sang Siwa Budha. Ditengah-tengah suhu politik dalam negeri yang memanas antara lain akibat perebutan kekuasaan internal di kerajaan Singosari sendiri serta ancaman separatisme dari Adipati Gelang-Gelang yaitu Jayakatwang. Beliau dengan gagah berani dan tegas menolak segala bentuk ancaman yang menyangkut kedaulatan dan integritas kerajaannya, meskipun yang mengancamnya adalah imperium dunia saat itu yaitu kekaisaran Mongol.

Sungguh jauh berbeda dengan kondisi pemimpin bangsa Indonesia saat ini yang begitu lembek dan lambat dalam menangani persoalan yang menyangkut integritas dan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa. Bangsa ini sudah terlampau sering dilecehkan dan dipermainkan harga diri dan kedaulatannya oleh bangsa-bangsa lain di dunia termasuk oleh negara-negara jiran semacam: Malaysia, Singapura dan Australia tanpa ada reaksi yang tegas dan berani dari pemimpin negeri.

Bila hal ini dibiarkan terus berlarut-larut maka penulis khawatir bahwa dignity, marwah, harga diri atau kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa yang besar dan berdaulat semakin lama akan semakin luntur berganti dengan rasa inferiority dan rendah diri dipercaturan politik Internasional.

Sebagai bagian dari rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia, sungguh penulis sangat rindu akan kehadiran pemimpin-pemimpin yang tegas dan berani dalam menjaga dan membangkitkan harga diri kita sebagai sebuah bangsa yang beradab dan berkedaulatan sehingga disegani dipentas dunia.

Pemimpin-pemimpin semacam Presiden Soekarno, Raja Kertanegara, dan pemimpin-pemimpin lain di era kolonialisme semacam Sutan Hasanudin, Imam Bonjol, Teuku Umar, Pattimura, Pangeran Diponegoro dll, yang gagah berani dan tegas melawan segala ancaman yang menyangkut harga diri dan kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa.

Sebenarnya bangsa ini bukan bangsa tempe yang lembek dan lemah serta mudah menyerah begitu saja terhadap berbagai rongrongan dan ancaman dari bangsa-bangsa lain yang notabene lebih kuat dari bangsa kita.

Bangsa ini adalah bangsa petarung, bangsa pejuang yang mempunyai sejarah panjang sebagai bangsa yang gagah berani mempertaruhkan kedaulatan bangsanya.
Kemerdekaan yang kita diperoleh bukan merupakan hadiah, pemberian ataupun anugerah dari negara lain, melainkan buah perjuangan yang tiada henti dan pantang menyerah dari seluruh pahlawan-pahlawan negeri yang gagah berani.

Sangat mengherankan bila melihat kondisi terakhir yang diperlihatkan pemimpin tertinggi negara kita saat ini. Disaat kedaulatan dan harga diri bangsa ini benar-benar sedang dilecehkan dan direndahkan oleh jiran kita yang mengaku sebagai bangsa serumpun itu, sekali lagi sikap yang terkesan lembek, takut dan lemah dipertontonkan oleh pemimpin tertinggi negara kita.

Seolah-olah negara kita ini begitu bergantung pada jiran kita yang OKB (orang kaya baru) itu, seakan-akan negara kita sangat bersandar perekonomiannya kepada jiran kita yang PLAGIATOR itu, seolah-olah negara kita begitu mudah didikte oleh negara yang kakek-neneknya berguru pada guru-guru kita, seakan-akan negara kita begitu takut pada negara yang kemajuan dan pembangunan negaranya adalah buah karya dan keringat dari para ahli-ahli negara kita.

Penulis benar-benar rindu pemimpin setype Soekarno yang berani mengatakan: INI DADAKU MANA DADAMU ! kepada pemimpin Malaysia saat bergolaknya revolusi Dwikora.

Penulis benar-benar rindu pemimpin setegas Raja Kertanegara yang tanpa rasa takut dan tanpa rasa gentar berani menghadapi ancaman Imperium Mongol.
Sungguh penulis sangat berharap bahwa Presiden SBY-pun  berani berkata kepada PM Najib Abdul Razak: INI DADAKU JIB MANA DADAMU !!!!!


Sumber: Kompasiana


Info TerkiniTerpopulerLain - lain

Komentar 

 
+1 #1 RE: Beda Antara SBY dan Raja KertanegaraToni darwis 03-09-2010, 17:10
mbokwes tko perang ngopo to?ra perang yowes urip rekoso kok
Balas tanggapan
 
 
+1 #2 RE: Beda Antara SBY dan Raja KertanegaraAlfon Limbong 03-09-2010, 19:05
Saya salah satu pembaca setia susnoduadji.com ini, dan selalu tertari hampir semua artikelnya.

Tapi belakangan ini sering kali isinya sudah mulai melebar kemana mana, tidak lagi fokus berjuang untuk kebenaran Pak Susno. Artikel ini pun menurut saya sudah sangat bias dari tujuan awalnya.

Saya pendukung Pak Susno, yang menanti2 tulisan apa lagi dari Sang Jenderal. Tapi makin ke sini yang ada hanyalah subjektif dari si administrator, yang menurut saya belum tentu sepikiran dengan Pak Susno.

Menanggapi perbandingan di atas, tampaknya penulis yang menamakan dirinya Kompasiana, terbuai di dunia komik yang menawarkan cerita2 heroik, yang selalu membagi dunia dalam pertentangan.

C'mon wake up, brur! Anda tidak lagi hidup di jaman saat Indonesia belum ada. Mimpi anda itu sudah tidak lagi relevan di peradaban baru ini. Gunakanlah otakmu, bukan ototmu, terlebih mulutmu yang penuh provokasi.

Belum tentu juga Anda ada di barisan paling depan yang memasang dada menahan peluru jika memang bangsa ini mengangkat senjata. Wacana wajib militer saja mungkin Anda ada di barisan paling depan untuk menolaknya.

Untuk sang administrator, mohon kembalilah pada jalur yang benar. Fokus pada perjuangan yang diangkat Pak Susno.
Dan biarlah pemikirannya saja yang diangkat, bukan terkontaminasi oleh pikiran2 yang lain, atau bahkan seolah2 semua artikel ini adalah pemikiran Pak Susno juga.

Tetap berjuang Tuan Jenderal!
Balas tanggapan
 
 
0 #3 RE: Beda Antara SBY dan Raja Kertanegarawayan bali 03-09-2010, 19:47
sungguh kita telah,bertentan gan dengan bangsa sendiri...apa yang terjadi dengan penduduk indonesia ini....pemikiran,panda ngan,ataupun apa namanya...patut diacungi jempol..karena apa yang diutarakannya bukan sekedar cerita dari komik,melainkan sejarah yang PERNAH terjadi di bumi Indonesia/nusantara ini..sungguh bangga bangsa ini,jika ada yang berpikiran seperti kompasiana...bagi yang berbeda pendapat,itu lumrah,karena pemikiran seperti itulah yang membuat indonesia terpuruk,bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari dan tak melupakan sejarah bangsanya!!!rub ahlah pemikiran anda pak limbong..!!!!susno duaji adalah gajah madanya indonesia...truslah berjuang tuk kebesaran indonesia dan lawan si perampas uang rakyat,,kami mendukungmu..jendral!!!
Balas tanggapan
 
 
0 #4 jaga harga diriagung 03-09-2010, 21:19
kalau mau kita punya harga diri di mata negara lain, ya jadilah bangsa yang punya harga diri. Saya melihat negara kita ini sudah hilang harga diri karena orang2 yg dipercaya sebagai garda depan negara malah memikirkan kepentingan pribadi, korupsi dsb.
Balas tanggapan
 
 
0 #5 RE: Beda Antara SBY dan Raja KertanegaraAlfon Limbong 06-09-2010, 11:08
Pemikiran saya tidak ada yang perlu diubah, pak wayan. Anda sepertinya tidak baca comment saya dengan seksama. Saya menyoroti artikel2 yang dimuat di website ini sudah melebar kemana-mana. website ini sudah menjadi semacam corong oposisi untuk mengambil posisinya bertentangan dengan pemerintah. Saya hanya menyampaikan untuk mari kembali fokus kepada perjuangan pak Susno mereformasi hukum ini, bukan untuk masuk terlalu jauh ke dunia politik negeri ini.

Kalau Anda cerdas, Anda tentunya tau Pak Susno adalah polisi profesional. Dan polisi profesional tidak akan memasuki dunia politik selama pakaian dinasnya masih pakaian dinas polri.

Jadi, jika kita mendukung perjuangan yang pak susno lakukan, maka kita juga harus cerdas pada koridor apa pak susno akan bersikap.

Pun saat pak susno bebas dan masih berseragam POLRI, beliau taat dan tunduk secara garis komando kepada pemerintahan negeri ini. Sekali-kali tidak akan beliau masuk kedalam dunia politik, atau bahkan menjadi oposisi pimpinannya sendiri.
Salam..
Balas tanggapan
 

Tulis komentar


Kode Keamanan
Refresh

JAJAK PENDAPAT

Kasus Yang Menimpa Susno Duadji Penuh Rekayasa, Bagaimana Pendapat Anda?

SD TWITTER

Follow us on Twitter

SINDIKASI RSS

KOMENTAR BARU

PENGUNJUNG

Kami ada 76 tamu online
Mobile